Setahun Ini Aku di Sini

Senja telah lewat. Tungku kedua baru saja merampungkan perabuan terakhir.

Sebuah peti berisi jenazah seorang pria paruh baya yang meninggal terpapar virus corona (Covid 19), telah selesai diperabukan. Abu jenazah di dalam guci baru saja diserahkan kepada keluarga almarhum. Esok hari, guci berisi abu tulang belulang yang telah digiling menjadi halus itu akan dilarung di laut Jawa melalui dermaga Ancol, Jakarta Utara.

Aku keluar dari gedung krematorium. Berjalan pelan menyusuri jalan beraspal di sela rerumputan. Ranting pohon kamboja meliuk tertiup angin. Lampu-lampu bundar nan terang memantulkan cahayanya ke kolam yang memanjang.

Suasana mulai sunyi. Keluarga dari almarhum yang dikremasi terakhir di krematorium ini telah meninggalkan area Oasis Lestari ini.

Aku berhenti. Duduk di jembatan kecil. Air kolam berkilau memanjang hingga di ujung jalan. Kecipak kecil dari ikan-ikan yang berebut makanan yang kulempar mengisi sunyi di awal malam ini.

Setahun ini aku di sini. Hehmmmm, aku menarik nafas.

Sosokku tampak kecil saat aku terduduk memandangi gedung mortuarium yang tinggi memanjang bak bahtera Nuh. Pandang lalu kegeser ke Griya Oase, krematorium dan kolumbarium. Kutatap juga taman yang berumput. Juga pohon-pohon kamboja, beringin, palem, dan lain-lain. Agak lama aku menikmati liukan puncak rumpun bambu yang mengelilingi area 3,9 hektar ini

Kami mengurus raga yang telah kehilangan jiwanya yang disemayamkan di rumah duka/mortuarium. Kami mengurus raga yang telah kehilangan jiwanya yang dikemasi di krematorium. Kami mengurus abu jenazah yang dititipkan di kolumbarium.

Di sinilah kami melayani keluarga-keluarga yang berduka, dan menghantar jiwa-jiwa menuju surga.

Memasuki bulan Juli ini, jenazah covid 19 tiba-tiba seperti menyerbu kami. Bersesakan mengantre untuk dikremasi. Kemampuan kami terbatas tapi jenazah yang dikirim seperti tak ada habisnya.

Di luar sana ada orang-orang yang melihat keterbatasan pelayanan kami untuk menangguk untung. Bisa kualat mereka itu. Memalak keluarga-keluarga yang tengah berduka dengan meminta bayaran tinggi untuk kremasi. Padahal biaya kremasi hanya 8 juta. Di luar yayasan-yayasan kedukaan mengutip berlipat. Dan kami, ibarat tidak makan buah nangka tapi kena pulutnya.

Dengan niat baik dan lurus hati, semoga berkat untuk kami, dan surga bagi jiwa-jiwa yang kami layani. (Anton S).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *