Rama Andreas Suhana Nitiprawira CSsR, Imam Redemptoris Pertama dari Jawa

Kamis Legi, 1 Agustus 1991, 30 tahun yang lalu Rama Andreas Suhana ditahbiskan menjadi imam Redemptoris di Gereja Santo Alfonsus Nandan Yogyakarta. Rama Andreas menjadi anggota Serikat Redemptoris dan imam pertama dari Jawa.

Rama Andreas Suhana memberi berkat perdana saat ditahbiskan pada 1 Agustus 1991, di Gereja St.Alfonsus Nandan Foto:Dokumen Pribadi

Lahir dari pasangan Yohanes Djemangin Nitiprawiro dan Monika Saikem, di Dusun Puluhan Sumberarum Moyudan Sleman. Mengenal Yesus dari buliknya yang bernama Martina Sainem, seorang Perawat dari R.S. Elisabeth, Semarang.

Rama Andre memiliki kemauan yang keras, namun mudah “trenyuh” hati. Saat meminta ijin masuk seminari, orangtua tidak membolehkan, karena kakaknya sudah masuk seminari. Mengapa yang kedua mau kesana juga?

Sebagai bentuk protes dan pencarian jalan hidup, Andre mengembara mencari ilmu kebal. Dari Banten sampai Banyuwangi dijelajahi. Ibaratnya “sewu kutha” diliwati, namun yang dicari tidak diketemukan. Sepeda motor CB baru yang dipergunakan untuk mengembara sudah bobrok dalam setahun. 

Suh, ingat, ketika aku aktif di Misdinar, Memandikan kerbau dan mengembalakannya di pagi buta bersama alm. Lik Kemin, saya wariskan padamu. Tanpa protes. Kendati jadi Imam, kamu tetap berjiwa merdeka Anak Gembala. Jadilah Gembala. Jangan jadi Kerbau, apalagi di-kerbau-kan orang, dan jangan sekali-kali meng-kerbau-kan orang. Lakukan sebagi mitra.” (pesan dari kakaknya F.Wahono Nitiprawira)

Perjalanan imamat yang unik.

Dengan kemauan yang keras, Andre mempelajari dan membandingkan. Pilihan jatuh ke Redemptoris. Hal ini diputuskan setelah membaca artikel tentang Redemptoris. Bagi Andre ini paling cocok. Ada semangat missionernya. “Aku ingin membaktikan diri sebagai Misionaris untuk Gereja yang tertinggal di pedalaman Sumba”.

Di Paroki St. Petrus dan Paulus Klepu (waktu itu) ada acara rutin yaitu HARBARULI (Hari Besar Rukun Libur). Dalam HARBARULI banyak kegiatan untuk saling mengakrabkan dan melepas rindu. Banyak anak-anak muda yang sekolah/kuliah di Yogya dan kost. Maka perjumpaan dengan sesama remaja/pemuda di paroki kurang intensif. Dengan rukun libur bisa mengobati itu. Dari kegiatan itupun banyak talenta dikembangkan. Karena ada beberapa cabang olah raga dipertandingkan antar lingkungan; volly, bulutangkis, sepakbola, kasti, dll. Ada aksi panggilan  dan lomba koor. 

Suatu saat Rama Andre menjadi Ketua HARBARULI. Dalam rangka mengisi aksi panggilan, beliau mengirim surat ke pimpinan CSsR (Congregatio Sanctissimi Redemptoris) Kongregasi Sang Penebus Mahakudus Indonesia. Isi surat tersebut mohon informasi tentang serikat dan mohon ikut serta mengisi aksi panggilan. Surat tersebut mendapat jawaban agar menghubungi pimpinan Wisma Sang Panebus di Nandan Yogyakarta. Saran tersebut segera ditindaklanjuti ke Wisma Sang Penebus. Ketika menemui pimpinan Wisma Sang Penebus, Andre malah diantar ikut test di Sanata Dharma, sebagai salah satu syarat masuk calon imam. Kebetulan lulus dan saat itu Andre baru tahu kalau lulus test calon imam.

Selanjutnya masuk dalam formatio imam Redemptoris. Masa pendidikan sebagai postulan dan novisiat dijalani dengan lancar. Demikian juga saat pendidikan di Seminari Tinggi Fakultas Theologi Wedhabakti Kentungan dijalani dengan lancar. Akhirnya Andre ditahbiskan bersama  teman angkatan Rama Mikael di Gereja St Alfonsus Nandan Yogyakarta.

Setelah ditahbiskan Rama Andre mendapat tugas memimpin Seminari Menengah di Waingapu Sumba, selama 7 tahun. Kemudian menjadi Pastor Paroki Hombakaripit Sumba Barat Daya. Pada tahun 1999 ditugaskan sebagai Pastor Paroki di Jatibening Jakarta.

Tahun 2004 pindah sebagai Pastor Paroki Katikuloku di Sumba Tengah. Disamping sebagai Pastor Paroki Rama Andre mendapat tugas sebagai Anggota Dewan Provinsi Redemptoris Indonesia. Karena kondisi kesehatan sejak tahun 2008, pimpinan memindahkannya ke Yogya sebagai staf Konvik Wisma Sang Penebus sampai sekarang.

Menerimakan Sakramen Ekaristi Pertama kepada ayahnya.

Bagi Rama Andre, imamat adalah anugerah dari Allah Sang kasih yang dihidupi dengan penuh syukur sebagai berkat bagi sesama. Kehidupan masa kecil Rama Andre yang berangkat dari keluarga sederhana di desa, menjadi spirit, terlebih saat bertugas di wilayah minus.

Dengan semboyan SEHATI (Sehat Ekonomi Hidup Aman Teguh Iman), Rama Andre menggerakkan kelompok tani dan membuat lumbung pangan. Dengan gerakan ini petani tidak dipermainkan oleh tengkulak. Saat panen Rama Andre bersama Tim Paroki membeli gabah dari petani Rp 650,– diatas harga tengkulak yang hanya Rp 150,– Saat paceklik menjual beras seharga Rp 2.000,–, jauh dibawah harga tengkulak yang Rp 10.000,– Dari gerakan ini bisa membangun kapel. Inilah berkat dari kecil karena dari keluarga yang bergerak di perdagangan beras. Rama Andre juga pendiri dan Pembina Yayasan Cindelaras Paritrina.

A. Gandung Sukaryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *