RAMA PETRUS SAJIYANA PR, “Manjing, Ajur, Ajer” (Hidup dalam Kebersamaan)

Mengenal Rama Saji pertama  kali saat masih Frater. Waktu itu bersamaan mengisi sebuah kaderisasi Pemuda Katolik DIY di pendapa rumah Pak Dana Warak Mlati Sleman.

Kebetulan Frater mengisi lebih dulu, kemudian saya, dilanjut makan malam bersama. Terus terang saya kagum dengan “starting fire” nya, artinya cukup mateng “public speaking”nya. Ini akan menjadi bekal yang baik saat kotbah nanti setelah jadi rama, dan menjadi pendamping anak muda, pikir saya.

Ternyata benar, setelah tahbisan imamat dari Kardinal Julius Darmaatmaja, 8 September 1993, Rama Saji ditugaskan menjadi Vikaris Parokial di Paroki St. Maria Fatima Sragen, Jawa Tengah, plus menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang (K3AS) untuk Kevikepan Surakarta selama 10 tahun (1993-2003).

Lahir di kampung Dumpuh, Argodadi, Sedayu, Bantul, 11 April 1963 dari pasutri Jadi Kariyowiyono dan  Jilah. Putera no.4 dari 6 bersaudara. Tahun 1971, usia 8 tahun berpisah dengan orangtua karena bekerja menjadi penggembala itik di keluarga Atmosuwarno, Kaliduren Sumberagung Moyudan Sleman. Saat itu juga masuk sekolah di SDN Kaliduren, Sumber Agung, Moyudan, Sleman.

MELANTIK PRODIAKON Rama Petrus Sajiyana, Pr melantik Prodiakon di Paroki Nanggulan, Kulon Progo (Foto: Dokumen Pribadi)

 Di sekolah ini Sajiyana mengenal iman Katolik dalam bimbingan bapak guru Budi Sumarto.  Klas 3 menerima Sakramen Baptis di Kapel  Wilayah Kaliduren Paroki St.Theresia Sedayu dari Rama St.Suhartana, Pr dengan nama baptis Petrus. Saat  klas 5 menerima Sakramen  Krisma dari Rama Alexander Jawasiswaya, Pr., Vikjen Keuskupan Agung Semarang.

Lima bulan setelah Krisma, berpindah keyakinan, karena pindah pekerjaan menjadi tukang naptol benang bahan membuat setagen, di keluarga bapak Mujana yang Muslim. Sekolahnya pindah dari SDN Kaliduren ke SDN Sumberagung, sampai kelas 5. Karena tidak kerasan di keluarga bapak Mujana, maka pulang ke kampung halaman dan menjadi pencari rumput untuk dijual.

Saat mencari rumput bertemu mbah Madya Suwarno, yang kemudian mempertemukan dengan bapak Y. Katon (seorang guru di Kanisius). Di keluarga bapak Y. Katon ini Sajiyana kembali bersekolah di SDN Kaliduren sampai lulus SD tahun 1976. Keinginanya melanjutkan di SMP Negeri, namun oleh bapak Y.Katon disarankan sekolah di SMP Pangudi Luhur Kaliduren, yang dekat dengan tempat tinggal bapak Y. Katon. Di SMP Pangudi Luhur ini benih panggilan tumbuh atas bimbingan Br. Floribertus, FIC.

BERSAMA TOKOH UMAT; Rama Petrus Sajiyana, Pr (tengah memakai rompi) bersama tokoh umat Paroki Nanggulan. Berdiri dari kanan, berbaju putih adalah Rama M.Supriyanto, Pr, Rama Paroki Nanggulan Kulon Progo (FOTO: Dok.pri)

Ketika kelas 2 SMP, keluarga bapak Y. Katon mengalami problem dan mengharuskan Sajiyana kembali lagi kerumah  orang tuanya. Problem lagi, beaya sekolah dan jarak tempuh dari rumahnya ke SMP Pangudi Luhur  jauh, dan transportasi tidak ada. Situasi ini dilaporkan ke wali kelas bapak Y. Giyarno dan pejabat Kepala Sekolah bapak AY. Sarjana. Ada jalan keluar, Sajiyana ikut keluarga bapak AY. Sarjana di Turgenen, Sumberagung, Moyudan, Sleman sambil memelihara sapi dan ayam.

Lulus SMP Pangudi Luhur, Sajiyana tetap tinggal di keluarga bapak AY.Sarjana. Ada niat masuk ke Seminari Menengah Mertoyudan, namun bapak AY.Sarjana meminta masuk ke SPG Pangudi Luhur Sedayu. Keduanya ditempuh, mendaftar di Seminari Menengah Mertoyudan dan SPG Pangudi Luhur. Keduanya diterima, dan putusan akhir masuk Seminari Menengah Mertoyudan.

Di Seminari Menengah Mertoyudan tahun 1980-1984. Mengikuti Pendidikan Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Jangli Semarang, karena masuk calon imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang. Di Tahun Orientasi  Rohani ini ada ultimatum dari Rektor yaitu Rama H.Natasusila, Pr.,  “Jika selama tiga bulan tidak ada perkembangan harus pulang”. Pernyataan Rama Rektor menjadi cambuk untuk mengolah hidup rohani.

Tahun 1985-1988 menempuh Pendidikan Filsafat dan Theologi di Fakultas Theologi Wedhabakti, IKIP Sanata Dharma. Menjalani Tahun Orientasi Pastoral  di  Paroki St. Pius X Karanganyar dan  St.Stephanus Jumapolo Karanganyar tahun 1988-1989. Melanjutkan studi Theologi di Fakultas Theologi Wedhabakti IKIP  Sanata  Dharma, hingga lulus S1 tahun 1989-1991. Menjalani Tahun Pastoral dan menyelesaikan karya tulis di Paroki St.Theresia Sedayu  Bantul.

Studi Imamat di Fakultas Theologi Wedhabakti tahun 1991-1992. Tahbisan Diakon di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, 25 Januari 1992.  Setelah menerima tahbisan Diakon menjalani Tahun Diakonat di Paroki St. Maria Fatima, Magelang tahun 1992-1993. Menerima tahbisan imam dari Bapak Kardinal Julius Darmaatmaja, di Kapel Seminari Tinggi St.Paulus Kentungan, 8 September 1993.

Setelah tahbisan Imam mendapat tugas sebagai Vikaris Parokial di Paroki St. Maria Fatima Sragen 1993-1996. Menjadi Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang (K3AS) Wilayah Kevikepan Surakarta 1993-2003. Vikaris Parokial Paroki St.Maria Bunda Kudus Kristus Wedi, Klaten. Secara khusus mendampingi umat Stasi St. Maria Ratu, Bayat, Klaten dan Stasi St. Yusuf, Gondangwinangun, Jogonalan, Klaten, tahun 1996-1999.

Pastor Paroki St. Pius X Karanganyar dan Paroki St. Stephanus Jumapolo Karanganyar tahun 1999-2007. Anggota Dewan Imam Kevikepan Surakarta tahun 2005-2007. Anggota Tim Dana Solidaritas Antar Paroki Keuskupan Agung Semarang tahun 2006-2013. Pastor Paroki St. Maria Assumpta Pakem Sleman DIY tahun 2008-2013.

Pastor Paroki St. Kristoforus, SP4 Prafi Manokwari, Keuskupan Manokwari – Sorong, Papua Barat, tahun 2013-2017. Vikaris Parokial Paroki St. Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan Kulon Progo DIY, Desember 2017 hingga Januari 2019. Dari Februari 2019 hingga saat ini berkarya di paroki Hati Kudus Yesus Sukoharjo.

Selalu Hidup Dalam Kebersamaan (Bahasa Jawanya “manjing ajur ajer”), itulah yang menjadikan  Rama Sajiyana selalu menjalani tugas dengan penuh sukacita. Rama Sajiyana selalu menyatu dan menyelami hidup bersama komunitas, kolega,  umat, dan masyarakatnya.

Pesan untuk kaum muda Katolik

Belajar dan belajarlah selalu dan selalu. “Non Scolae set Vitae, Discimus”. Belajar itu bukan   untuk mencari atau mendapat atau mengantongi nilai, tetapi belajar itu untuk hidup. Karena itu rekan-rekan Kaum Muda Katolik, janganlah berhenti belajar dan belajar. Hidup ini adalah  pembelajaran. Apalagi belajar hidup tidak akan ada hentinya. Belajar jangan  hanya diartikan menimba ilmu dari para pembina atau pembimbing. Dengan melihat dan mendengar kita juga belajar, dan ini adalah pembelajaran yang sangat efektif.

Penulis: A. Gandung Sukaryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *