A.Y. Djoko Purwono, UMAT KATOLIK HARUS HADIR

Pertama kali bertemu dengan Pak Djoko, waktu melayat di Dusun Daratan Lor. Waktu itu melayat Bapak Sarimun Pujawidiyana, mantan guru SD Pangudi Luhur Yogyakarta.

Raker FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kecamatan (Kapanewon) Gamping. Pak Djoko baju putih berdiri no.3 dari kiri. (foto dok pribadi).

Kami duduk berdampingan, berkenalan, dan mengobrol, saling bertukar nomor hp. Selanjutnya pertemanan berlanjut, dalam kegiatan-kegiatan kerasulan awam. Setelah sering bertemu, ternyata Pak Djoko adalah satu-satunya sisa ISKI (Ikatan Siswa Katolik Indonesia). Setidaknya sampai tulisan ini jadi, belum ada lagi eks anggota ISKI yang penulis temui.

Pak Djoko dilahirkan di Sleman, 28 Agustus 1950, tinggal di Gamping Tengah RT 02/RW 14 Ambarketawang, dengan putera tiga orang, cucu tiga. Putera pertama (putri) sekarang di Bali; putera kedua (putri) di Balecatur Gamping; putera ketiga (putra) meneruskan profesi pak Djoko di PG. Madukismo dan tinggal di Rumah Dinas PG. Madukismo.

Riwayat Pendidikan Pak Djoko: Sekolah Dasar 1962; SMP tahun 1965; SPbMA (Sekolah Perkebunan Menengah Atas 4 tahun, lulus tahun 1970, dan LPP tahun 2001. Selama 30 tahun hidupnya diabdikan di Pabrik Gula Madukismo dari tahun 1976 – 2006.

Disamping pengabdiannya sebagai karyawan di Pabrik Gula Madukismo, Pak Djoko sejak muda aktif merasul dan berkiprah untuk masyarakat. Menjadi Sekretaris ISKI (Ikatan Siswa Katolik Indonesia, tahun 1969-1971). Memang pada masa itu ormas Katolik ada ISKI (Ikatan Siswa Katolik Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), Pemuda Katolik dan Wanita Katolik RI. Djoko aktif di Pemuda Katolik St. Martinus Gamping, sebagai Sekretaris, tahun 1971-1973. Menjadi Ketua Kring/Stasi tahun 1977-1979. Menjadi Sekretaris Dewan Paroki St. Maria Assumpta Gamping, tahun 1981-1986. Menjadi Wakil Ketua Dewan Paroki St. Maria Assumpta Gamping, tahun 1988-1994. Menjadi Ketua Dewan Paroki St. Maria Assumpta Gamping tahun 1996-1999.

PERISIAPAN RAKOR FKDM Dari kiri bapak AY. Djoko Purwono, tengah ibu Dewi, Ketua BKOW Kab.Sleman dan bapak Ign.Suryadi Wakil Ketua FKDM, dalam persiapan Rakor FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat) Kab. Sleman (foto dok.pribadi)

Keaktivan dan perannya dalam kemasyarakatan membuahkan penghargaan bagi Djoko. Ia menerima piagam penghargaan dari:

  1. Direktur PG Madukismo dalam Pelatihan Pengembangan Sikap Mental.
  2. Ketua Badan Kesbangpol Propinsi DIY dalam Sosialisasi Bhineka Tunggal Ika
  3. Bupati Sleman dalam pengabdiannya di FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat)
  4. Panewu Kapanewon Gamping dalam keaktivannya di FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama)
  5. Ketua Bawaslu Republik Indonesia, dalam Pengawasan Kepemiluan.

Sebagai orang yang banyak berkiprah di bidang kemasyarakatan, Djoko juga banyak memberikan pendidikan politik kepada umat. Menjelang pemilu, pilpres, dan pilkada. Bergabung dalam kepanitiaan Gelar Budaya Kecamatan Gamping pada tahun 2016-2019.   

Rapat koordinasi KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) Kab Sleman di pendopo Kecamatan (Kapanewon) Minggir. Pak AY.Djoko Prowono (berdiri paling kiri). (foto dok pribadi)

Begitulah Djoko, berpegang pada semboyan “old soldier never die” dan sebagai orang beriman Katolik berprinsip; “orang Katolik harus hadir”. Ya, kehadiran seorang Katolik di suatu tempat sudah membawa suasana tersendiri.

Djoko berpesan kepada anak-anak muda Katolik, juga hadir dimana-mana. Umat Katolik semua dipanggil dan diutus untuk mencapai kesejahteraan umum (bonum commune). Menjadi garam di tengah masyarakat, menjalin kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial.

Kecuali itu pesan khusus untuk kaum muda Katolik; kerasulan jangan hanya yang rutin di seputar altar. Kaum muda Katolik mesti berani keluar dari zona aman. Hadir dan berperan dalam dinamika sosial kemasyarakatan. Ladang kerasulan saat ini kecuali altar, juga latar dan layar (media gadget).

Yogyakarta, Juni 2021

A. Benediktus Gandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *