PANCASILA REBORN

Webinar bertema “Pancasila di Era Generasi Zaman Now” berakhir dengan rumusan yang apik. “Pancasila Reborn”.

Istilah “Pancasila Reborn”, dimunculkan oleh Bangun Putra Prasetya, pembicara termuda dalam webinar itu. Di akhir webinar, Ketua Komisi PK3 Kevikepan Jogya Timur, Rosarius Sapto Nugroho Pr yang menegaskan kembali istilah “Pancasila Reborn” itu.

Webinar yang diprakarsai FMKI DIY dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini diselenggarakan untuk mengisi Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Panitia mengundang tiga pembicara, yaitu Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Phil. Al Makin S.Ag MA, Anggota Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati, dan Aktifis Pemuda dan Staf Ahli DPRD DIY Bangun Putra Prasetya SE, Msc, MM. Sementara Ketua Yayasan Dinamika Edukasi Dasar Mangunan Pastor DR CB Mulyatno, bertindak sebagai keynote speaker.  Sedangkan moderator adalah DR. Bernardus Wibowo Suliantoro M.Hum.

Webinar ini diikuti 300 an peserta, sebagian besar adalah kaum muda dan aktifis sosial kemasyarakatan dari berbagai daerah.

ROSARIUS SAPTO NUGROHO PR

Romo Sapto, demikian panggilan Kepala Paroki St Yohanus Rasul Pringwulung itu menjelaskan, Pancasila adalah narasi – mantra yg dirumuskan dari dan dalam proses perjumpaan para bapa bangsa yg beragam. Pancasila adalah artefak yang kasat mata yang dirumuskan sebagai nilai kebangsaan yang hidup di semua generasi.

Dan selanjutnya Pancasila memanggil setiap anak bangsa di setiap generasi untuk kembali mewujudkan Mantra itu dalam hidup yang konkret. Rumusan dalam Pancasila itu adalah mantra kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, Pancasila merupakan kalimat sakti yang bergema di hati, yang  memunculkan pola hidup, cara berpikir dan bertindak sebagai bangsa. “Dalam Pancasila, kita menemukan Tuhan yang Esa dalam keragaman,” demikian tegas Romo Sapto.

Dengan mantra itu, lanjutnya, bangsa Indonesia dapat membangun jati diri sebagai manusia, sebagai pribadi yang adil beradab, makhluk sosial dalam berbangsa dan bernegara untuk menjaga persatuan, demokrasi dan mencapai  kesejahteraan bersama.

Romo Sapto melanjutkan, orang-orang muda perlu contoh nyata. Secara  politik, kata Romo Sapto, dalam segala kekurangan bangsa Indonesia mempunyai tokoh-tokoh politik yang konsen benar-benar mengawal Pancasila dalam rumusan Undang-undang agar tetap terjaga.

“Para wakil rakyat tetap menjaga Pancasila. Ada upaya positif agar Pancasila tetap sebagai mantra dan spirit bangsa,” tegasnya lagi.

Romo Sapto mengkhiri perumusannya dengan mengajak orang muda untuk tidak menunggu contoh dari orang-orang tua. Ia menunjuk 75 % peserta webinar yang adalah orang muda untuk mengawali proses. “Berbuat baik tidak perlu menunggu ada yang memberi contoh!” pesan Romo Sapto.

Penulis:  Anton Sumarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *