Bruder Frans Sugi FIC: Pendidik dan Dalang

Saya mengenal Bruder Frans pertama kali saat bertugas di Semarang. Bruder Frans (panggilan akrabnya) ini bertugas di Yayasan Pangudi Luhur Pusat dan mengemban tugas di Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Semarang.

Perkenalan dan perjumpaan pun berlanjut, karena urusan Pendidikan Katolik. Br.Frans lahir di Sleman, 7 September 1953, putera ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Petrus Surapawira. Riwayat pendidikannya: SD Negeri Daratan, tahun 1964; SMP Santo Yusup Klepu, tahun 1968; SPG Pangudi Luhur Kidul Loji, tahun 1971; IKIP Sanata Dharma, tahun 1977 dan IKIP Negeri Semarang tahun 1983. 

Saat ini Bruder Frans berkarya dan bertempat tinggal di Komunitas Bruder FIC, Jalan P.Senopati no.18 Yogyakarta. FIC (Fratres Immaculatae Conception Beatae Mariae Virgini = Santa Maria yang dikandung tak Bernoda).  Bruder Frans menjabat sebagai Ketua Yayasan Pangudi Luhur Perwakilan Yogyakarta.

BERSAMA KOLEGA PARA BRUDER FIC DARI SELURUH DUNIA (Foto: DOk.Pri)

Beginilah riwayat panggilannya: Postulan FIC di Muntilan tahun 1972; Novisiat Kanonik FIC di Solo tahun 1973; Novisiat Lanjutan di Semarang 1974; Prasetia Sementara 8 Desember 1974; Prasetia Seumur Hidup (Kaul Kekal) 8 Desember 1980 di Gereja F.X. Kidul Loji; Prasetia Perak 25 Tahun di Maastricht, Belanda, Desember 1999; dan Prasetia 40 tahun di Candi, Semarang, Desember 2014.

Ada dua cita-cita atau prinsip yang beliau pegang dalam menghayati panggilan sebagai Bruder, yaitu:

  1. Bertekun dan meyakini profesi atau karya apa pun sebagai sarana perwujudan kasih Allah; sebagai karya pewartaan.
  2. Mesti ada yang berani berprofesi bukan hanya karya profan, tetapi juga menjadi tenaga ‘inti’ Gereja yaitu Religious (bruder, imam, suster).

Saya menduga prinsip ini yang menjadikan Bruder Frans sampai pada Prasetia 40 tahun hidup membiara, pada Desember 2014. Dalam karyanya Bruder Frans dipercaya dan bertekun di dunia Pendidikan. Selesai Pendidikan dari IKIP Sanata Dharma, ia ditugaskan menjadi guru di SPG Pangudi Luhur Don Bosco dan SMP Pangud luhur Domenico Savio II di Semarang, tahun 1977-1979. Menjadi Guru dan Bapak Asrama di SPG Pangudi Luhur van Lith Muntilan, tahun 1979-1981. Kembali ke Semarang menjadi guru dan Kepala Sekolah di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang, tahun 1981-1988.

Menjadi Guru dan Kepala Sekolah SMA Pangudi Luhur Santo Yosep tahun 1988-1991. Menjadi Guru dan Kepala Sekolah di SMA Pangudi Luhur Jakarta tahun 1991-1993. Menjadi Guru dan Kepala Sekolah di SMP Pangudi Luhur Klaten, tahun 1993-1995.

Setelah kurang lebih 18 tahun di dunia Pendidikan, Bruder Frans ditugaskan menjadi Asisten Dewan Umum di Maastrich Belanda, tahun 1995-2000. Di Maastricht Belanda pula Bruder Frans Sugi mengucapkan Prasetia Perak 25 Tahun, pada Desember 1999. Tahun 2000 Bruder Frans kembali ke Indonesia untuk menjabat sebagai Provinsial di Dewan Provinsi FIC Indonesia, selama tahun 2000-2005. Kemudian kembali ke dunia Pendidikan, menjadi Ketua Yayasan Pangudi Luhur Pusat tahun 2006-2018. Menjadi Ketua Yayasan Pangudi Luhur Perwakilan Yogyakarta 2019-sekarang.

Satu talenta lain yangBruder Frans kembangkan yaitu sebagai dalang wayang Wahyu dan wayang Purwa. Dalam berbagai kesempatan hari-hari penting Pangudi Luhur atau Komunitas, Bruder Frans sering mengisi dan memeriahkan dengan pagelaran wayang.

BRUDER FRANS MENUNJUKKAN SEBAGIAN KOLEKSI WAYANG, TERNYATA BEKAS MILIK KI NARTO SABDO (Foto: TT/Anton Sumarjana)

Sebagai contoh ketika ulang tahun SMP Pangudi Luhur Sedayu yang ke-57, 27 dan 28 September 2019. Ada gelar budaya, salah satunya adalah gelar wayang purwa dan wayang Wahyu. Wayang purwa oleh dalang cilik, siswa SMP Pangudi luhur Sedayu, Ki Teto Hudyoyono (Anselmus Criesto Damar Hudyoyono) dengan lakon Krisna Duta. Sedangkan hari berikutnya gelar wayang Wahyu dengan dalang Bruder Frans Sugi, FIC mengambil lakon Nabi Musa.

BERSAMA DUA ORANG PENGGEMAR (Foto: TT/Anton Sumarjana)

Ada dua pesan khusus untuk generasi muda Katolik, baik mahasiswa maupun kaum muda pada umumnya, untuk:

  1. Menyadari betapa pentingnya hidup membiara di dalam Gereja. Coba membayangkan seandainya Gereja Indonesia tidak ada lagi religiusnya (Bruder, Suster, Imam).
  2. Berani memutuskan masuk dalam hidup membiara. Apa pun yang akan terjadi: MENCOBA!!!

Semoga menginspirasi anak-anak muda, baik di keluarga-keluarga, paroki maupun mahasiswa di kampus-kampus.

Penulis: A. Gandung Sukaryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *