MODERASI AGAMA

Oleh A. Gandung Sukaryadi

Pemerintah dalam menanggapi maraknya intoleransi dan maraknya kekerasan berbaju agama,  mengajak kepada semua umat beragama untuk memoderasi agama.

INDAHNYA KERAGAMAN

Foto bersama suster-suster CB dan beberapa mahasiswi Muslim seperti ini membangun suasana yang adem, rukun dan menegaskan betapa indah keragaman (foto: Elis Setyaningsih)

Istilah moderasi dalam KBBI Edisi Keempat, artinya pengurangan kekerasan atau penghindaran keekstreman. Kalau pemerintah mengajak masyarakat memoderasi agama, berarti ditengarai ada praktik hidup beragama yang mengandung kekerasan dan/atau hidup beragama secara ekstrem.

Memang realitasnya ada praktik-praktik kekerasan dan intoleransi yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku taat beragama. Kekerasan ini berupa penganiayaan, pembubaran acara ritual keagamaan, pelecehan dan diskiriminasi secara perlakukan maupun kebijakan. Ada juga praktik hidup beragama yang menunjukkan pada suatu keekstreman, artinya melampaui batas kewajaran.

Bagaimana tanggapan masyarakat dengan ajakan memoderasi agama? Tentu saja masing-masing berbeda. Namun akan baik jika masyarakat menanggapi secara positif dan menjadikan untuk mengaca diri. Tanggapan pertama adalah berterima kasih kepada pemerintah yang sudah memberi sinyal untuk memoderasi agama. Tentu pemerintah mempunyai ukuran dan indikator-indikator untuk dasar mengajak memoderasi. Sudah benarkah kita menghayati dan mengamalkan hidup keagamaan kita? Mengaca diri tentu tidak mudah, maka ada pepatah “buruk muka kaca dipecah”. Dengan pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana kehidupan keagamaan masyarakat, akan bisa merefleksi dan selanjutnya mengubah sikap hidup.

DOA BERSAMA TOKOH-TOKOH AGAMA

Para tokoh lintas iman berfoto bersama seusai acara Doa Bersama untuk 53 awak kapal selam Nanggala 402 yang hilang di Selat Bali beberapa waktu lalu, Doa Bersama ini dilakukan di Mako Angkatan Laut di Jl Melati Wetan, Yogyakarta. (Foto: Elis Setyaningsih)

Tantangan terbesar moderasi beragama adalah ketika sesuatu yang dilakukan diyakini sebagai kebenaran dan perintah Tuhan. Ketika sampai pada taraf pemahaman tersebut, bisa meninggalkan nilai yang lain, meski itu mengandung kekerasan atau sebuah bentuk ekstremitas. Dalam Bahasa implementasi Pancasila: mengamalkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, tanpa sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kekerasan dengan berbaju agama ini bisa dikategorikan dalam beberapa jenis kekerasan:

  1. Berupa kekerasan fisik:: a) Pembubaran atau serangan kepada  suatu jemaat yang sedang melaksanakan ritual peribadatan dan menganiaya (pukulan, tendangan, tamparan, dll). Ini pernah terjadi dan dialami oleh semua jemaat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b) Dengan menggunakan bom, baik bom bunuh diri maupun bom-bom yang dipasang di tempat-tempat peribadatan. c) Penyegelan tempat-tempat peribadatan oleh jemaat yang satu kepada jemaat yang berbeda agama/kepercayaan.
  2. Berupa kekerasan psikis> a) Berupa ejekan, sindiran atau teror yang menimbulkan rasa takut, waswas, rasa cemas dan tidak nyaman hidup bermasyarakatnya. b) Pemaksaan dan ancaman dengan aturan-aturan yang diskriminatif, misalnya pemakaian atribut/simbol keagamaan yang dipaksakan dan jika dilanggar diberi sangsi, nilainya dikurangi, atau sangsi lainnya yang menimbulkan rasa tidak nyaman. c) Mengkafirkan, dengan berbagai macam cara dan kata, sehingga orang merasa jengah.
  3. Berupa kekerasan finansial : a) Bantuan dana hibah atau lainnya bagi Lembaga-lembaga keagamaan yang tidak proporsional. b) Penyelenggaraan undian berhadiah dari Lembaga bisnis dan perdagangan, yang hadiahnya hanya untuk satu golongan jemaat saja.
  4. Berupa kekerasan anti sosial: a)Melarang jemaatnya bergaul dengan jemaat yang berbeda agama atau kepercayaan. b) Melarang jemaatnya melayat, melarang memberikan ucapan selamat, dan larangan lain yang berhubungan dengan orang berkeyakinan lain.
  5. Berupa kekerasan seksual : Ujaran-ujaran kebencian dan ucapan tidak senonoh yang menyinggung seksualitas, alat kelamin dan sebutan-sebutan kasar yang tidak pantas.

Bentuk-bentuk ekstremitas bisa dilihat dalam praktik-praktik hidup keagamaan yang diluar kewajaran. Sweeping rumah makan dan makanan, KTP, pakaian, jam malam bagi perempuan, apakah ini bisa dikategorikan ekstremitas. Mengingat tindakan tersebut bukan menjadi kewenangannya.

Langkah-langkah moderasi:

  1. Melibatkan tokoh-tokoh intelektual di bidang keagamaan (theolog) dari Perguruan Tinggi Agama, bersama ulamanya masing-masing, membuat bahan khotbah atau renungan-renungan yang menyejukkan bagi jemaatnya atau masyarakat lain yang mendengarkannya.
  2. Kerjasama pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama dan Kementerian terkait lainnya,  dengan Lembaga-lembaga Keagamaan, senantiasa bergotongroyong membangun kerukunan hidup bersama.
  3. Menggairahkan kembali tradisi-tradisi dan media yang mempertemukan serta mempersatukan seperti: kelompok kesenian tradisional (ketoprak, teater, karawitan, keroncong, band, ludruk, jatilan); Kelompok atau klub olah raga dan senam kesehatan jasmani; kegiatan bersama di kampung/desa (siskamling, kerja bakti).
  4. Sekiranya baik kita menghidupi pesan-pesan para tokoh moderasi agama: KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Buya Syaffei Maarif, YB.Mangunwijaya, Kardinal Ignatius Suharyo, dan lainnya, yang ucapan-ucapannya menyejukkan masyarakat.

Yogya, April 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *