Emmanuel Astoko Datu “Rasul Awam yang Tak Kenal Lelah”

:

Pria kelahiran Bantul, tanggal 18 April 1941, saat ini tinggal di sebelah utara Gereja Hati Kudus Ganjuran. Tepatnya Ganjuran, Gedogan, Sumbermulyo, Bantul.

Em.Astoko Datu bersama tamu dari mancanegara yang datang mengunjungi Ganjuran (foto dok pribadi)

Saya mengenal beliau sebagai aktivis sosial politik dan kemasyarakatan. Dari Pemuda Katolik, Partai Katolik, Partai Demokrasi Indonesia, penggerak dan pendamping nelayan dan petani organik. Pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan, dan berlanjut di Seminari Tinggi/Biara Padua, Jurusan Filsafat Theologi, tahun 1960.    

Di Pemuda Katolik, Partai Katolik dan Partai Demokrasi Indonesia, pak Astoko Datu menjadi seniornya Pak Wiyanjono, Pak V.Sukardjo (alm) yang pernah menjadi Anggota DPRD Kota Yogyakarta dan Kepala Sekolah SMA Santa Maria Yogyakarta. Dalam karier politik Pak Astoko pernah menjadi Anggota DPRD Bantul Fraksi PDI.

EMMANUEL ASTOKODATU (Dok.Pri)

Rasul awam ini memang tidak pernah berhenti berkarya, dan karyanya tidak dibatasi ruang maupun waktu. Karya monumental yang sampai sekarang masih terus berkelanjutan adalah bersama Rama Gregorius Utomo, Pr (almarhum). Pada tahun 1990, berhimpun beberapa kelompok petani dari Kulon Progo (DIY), Bantul (DIY) dan Klaten (Jawa Tengah), di ruang besar milik Panti Asuhan St.Maria Ganjuran, desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY. Waktu itu dihadiri pula beberapa utusan dari luar negeri. Sarasehan atau musyawarah, yang melahirkan Deklarasi Ganjuran itu disponsori oleh A.I.S.A.ke V, sebuah lembaga milik Federasi dari Konperensi Uskup Asia FABC  (Federation of Asian BishopsConferences).

Pak Astoko Datu bukan hanya sebagai saksi peristiwa Deklarasi Ganjuran, tetapi pelaku sejarah. Bersama Rama G.Utomo, Pr, dan tokoh Paroki Ganjuran lainnya. Terpikirkan bagaimana mengatasi pertanian pada waktu itu. Sebagai akibat program swa sembada pangan, pertanian waktu itu secara besar-besaran memakai pupuk kimia yang berakibat rusaknya tanah pertanian. Semakin lama tanah menjadi keras, dan pemberantasan hama juga No banyak obat kimia. Akibat yang dirasakan adalah kualitas beras. Nasi menjadi tidak awet dan terkontaminasi bahan kimia yang berdampak bagi kesehatan manusia.

Bapak Astoko Datu (tanda V) di Komunitas Desa Rangkat sedang talkshow di booth KoplakYoBand #Kompasianival2015. (foto dok pribadi)

Apa yang dipikirkan dan dipahami ketika itu adalah “Membangun Pertanian dan Pedesaan Yang Lestari” selanjutnya diperluas dengan : “Membangun Kenelayanan dan Pertanian serta Pedesaan yang Lestari”.  Apa yang dipikirkan dan kemudian dilakukan ternyata gayung bersambut dengan apa yang berkembang di Asia. Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dengan organnya “Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial” (LPPS), mendapat giliran menjadi tuan rumah penyelenggaraan musyawarah kegiatan sosial se Asia (AISA V).

Astoko Datu diminta Pastor Gregorius Utomo Pr, yang sudah dikenal sebagai pegiat sosial pertanian untuk membuat ajang gelar acara eksposure bagi musyawarah AISA V itu. Disinilah pak Astoko Datu digandeng Rama G.Utomo, Pr yang waktu itu menjadi Pastor Paroki Ganjuran. Karena berbagai agenda yang sudah ada, maka pertemuan itu dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober, sekaligus merayakan Hari Pangan Sedunia. Mungkin karena karya Roh Kudus, ketetapan tanggal ini klop dengan thema, warna dan bentuk yang disajikan.

Hari Pangan Sedunia lahir 16 Oktober 1981, bertepatan dengam hari lahir FAO (Food and Agricultural Organisation) yang ke-22,  bertujuan untuk:

  1. Peningkatan kesadaran akan masalah pangan dan kesetiakawanan di tingkat nasional maupun internasional.
  2. Ajakan Partisipasi kepada kelompok yang tidak diperhitungkan (perempuan, dan kelompok-kelompok marginal, orang desa dan lain-lain. Mungkin sekarang ini yang dikenal KLMTD) untuk mengambil keputusan lebih-lebih terhadap nasib mereka sendiri.

Dari tahun 1983, tema Hari Pangan Sedunia selalu diarahkan untuk berpihak kepada kelestarian lingkungan. Di Indonesia juga menyesuaikan dengan tema yang dicanangkan oleh FAO. Peningkatan Produksi berwawasan lingkungan. Tahun 1990, Pangan untuk hari depan, di Ganjuran, Kabupaten Bantul.  Tahun 1991,  Pepohonan untuk kehidupan di Wates, Kulon Progo,DIY. Tahun 1993 :  Pelestarian dan Pemanfaatan Keanekaragaman Sumberhayati, di Boyolali, Jateng. Mulau masuk para Nelayan. Tahun 1994, Air untuk Kehidupan di Tulungagung Jatim,

Hari Pangan Sedunia terus berlanjut sampai sekarang, meski Pak Astoko sudah tidak lagi langsung terlibat disana. Tetapi nyata bahwa beliau bukan hanya saksi, tetapi pelaku sejarah. Sampai saat ini beliau berusia 80 tahun. Apakah karya berhenti? Tidak. Beliau masih aktif menulis di Kompasiana, mengkritisi kondisi sosial politik dan kemasyarakatan. Ulasannya tajam, refleksinya mendalam. Semangat kerasulannya tidak surut dan menurun pada putera-puteranya.

Penulis: A.Benediktus Gandi

1 Komentar

  1. Sbg yg dicerirakan sangat berterima kasih semoga memberi semangat adik adik dan kaum muda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *