GEMAYOMI, TIGA TAHUN MELAWAN INTOLERANSI

12 Februari 2018 malam, derasnya hujan tidak memadamkan api yang membara dalam dada masyarakat Yogyakarta. Api membara itu disulut oleh intoleransi yang diluar batas peradaban.

KONGGRES I

Gemayomi mengadakan Konggres I di Yogyakarta pada 22 September 2019. Para peserta konggres berfoto bersama. (Foto: Dokumentasi Gemayomi)

Minggu 11 Februari 2018, pukul 07.50, saat Perayaan Ekaristi di Kapel St.Lidwina Bedog Gampimg Sleman, seseorang menyerang pemimpin ibadat dengan pedang dan melukainya. Tidak hanya pemimpin ibadat yang terluka, ada 4 orang lain yang ikut terluka. Pada awal tahun itu intoleransi terjadi beruntun.

Yogyakarta yang pernah mendeklarasikan sebagai City of Tolerance tercabik. Malam, 12 Februari 2018 masih mencekam, dibawah guyuran air hujan, berkumpul 36 elemen masyarakat Yogyakarta di Cafe Animalika, Jalan Kaliurang, Yogyakarta mendeklarasikan Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi, disingkat GEMAYOMI.

GEMAYOMI dimotori oleh MY.Esti Wijayati, anggota DPR-RI dari PDI-P, didukung oleh tokoh masyarakat antara lain Prof. DR. M. Mukhtasar Syamsudin, M.Hum (BNPT-DIY), Listanto Budiman (Ketua Pusat Studi Pancasila UPN Yogyakarta), Ir.Bambang Sigit Sulaksana (DPRD Sleman) dan elemen masyarakat: Tritura, BSM Central Kota, FMKI, KPKC (Justice and Peace), Lakodya, FBD, Banteng Satu, Tentara Langit, Taruna Merah Putih,  Banser, BSM, Kalasan STAK, GRJ, FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme), Rumah Kreatif Pancasila (RKP), ANBTI, Qzruh, Ganas, GRCP, GSM, Gharba, FBN, PMII Veteran,  FPUB, NCI, Tabah Rescue, PAMJA, Aliansi BEM, FORKI, PK, ISKA.

Gerakan pertama adalah membuat pernyataan sikap, menanggapi peristiwa intoleransi yang terus muncul dan penyerangan Kapel St.Lidwina Bedog Gamping Sleman.

PEMBINA DAN KETUA UMUM GEMAYOMI

Pembina Gemayomi MY Esti Wijayati bersama Ketua Umum Gemayomi (paling kanan) Prof. Dr. M. Mukthasar (Foto: Dokumentasi Gemayomi)

PERNYATAAN SIKAP GERAKAN MASYARAKAT YOGYAKARTA MELAWAN INTOLERANSI (GEMAYOMI)

Dalam rangka menjaga keberlanjutan NKRI, maka kita perlu menyikapi kejadian akhir-akhir ini dengan adanya tindakan intoleransi mulai dari kejadian di Jawa Barat hingga terakhir yang terjadi di Yogyakarta, untuk itu kami menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Melawan tindakan intoleransi terhadap kebebasan beribadah umat beragama

2. Menuntut dengan tegas agar aparat penegak hukum menyelesaikan kasus intoleransi dengan seadil-adilnya

3. Memohon dengan hormat kepada SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X selaku Raja dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta agar mengayomi masyarakat dengan arif dan bijaksana dan terlibat langsung dalam menyelesaikan kasus intoleransi

4. Memohon dengan hormat agar SRI SULTAN HAMENGKU BUWON X membubarkan ormas-ormas yang secara nyata menyebarkan rasa permusuhan antarumat beragama dan yang menciptakan kondisi intoleransi dan terorisme di Daerah Istimewa Yogyakarta

5. Menolak segala bentuk deklarasi dan tindakan yang terang-terangan menggantikan predikat Yogyakarta sebagai city of tolerance.

Pernyataan ini ditandatangani oleh 32 elemen masyarakat.

Gerakan melawan intoleransi ini cukup mengagetkan bagi banyak pihak termasuk “para teroris”. Karena hampir setiap terjadi intoleransi, pihak korban selalu dikalahkan. Seolah-olah pelaku kebal hukum dan ada “invisible hand” yang melindungi. Namun karena sudah lama menahan diri, dan kesadaran untuk melawan bersama, maka GEMAYOMI menjadi cepat dikenal dan menjadi harapan bagi ketenteraman masyarakat, persatuan dan kesatuan nasional.

GEMAYOMI DALAM RANGKA PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA 1 JUNI 2018 (Foto: Dokumentasi Gemayomi)

GEMAYOMI tidak hanya membela segolongan minoritas, tetapi untuk semua golongan dan seluruh masyarakat yang mengalami teror, radikalisme dan intoleransi. Bahkan Ketika Lembaga yang menjadi symbol negara diserang, GEMAYOMI juga mengambil sikap. Untuk itu GEMAYOMI telah menjelajah Nusantara melawan teror, radikalisme dan intoleransi.

Ada dua pendekatan yang dipakai untuk melawan intoleransi: rersponsif, yaitu cepat memberi tanggapan atas peristiwa yang terjadi dan penanganan langsung.

Kasus-kasus intoleransi yang ditanggapi dan ditangani selama 3 tahun ini : 1) Kasus penyerangan di Kapel Santa Lidwina Bedog  Sleman; 2) Pembubaran upacara ritual labuhan di Pandansimo Bantul; 3). Penolakan rumah tinggal bapak Slamet di Banguntapan Bantul; 4). Pemotongan kayu salib di makam Banguntapan Bantul; 5). Perusakan Mushola Banguntapan; 6). Kasus ritual di Mangir Pajangan Bantul; 7). Pencabutan IMB Gereja GPdI Sedayu Bantul; 8). Kasus Gereja di Tanjung Balai Karimun; 9). Pengrusakan Mushola di Minahasa; 10). Penolakan mahasiswa KKN di Kulon Progo; 11). Gereja Tanjung Jabung Kuningan; 12).Wisma Rejoso Klaten Jawa Tengah; 13). Penolakan Kantor Clasis GKJ Gunung Kidul; 14).  Pembubaran ibadah Gereja di Sleman (pandemi); 15).  IMB Gereja di Kab. Bekasi; 16). Kasus IMB di Kab. Bogor; 17). Pengrusakan kayu salib di makam Muntilan; 18). Penyerangan Mako Brimob Jakarta; 19). Teror bom di Gereja Katolik St.Maria Tak Bercela Ngagel; 20). GKI Diponegoro; 21). Gereja Kristen GPPS Arjuna.

Seiring perkembangan waktu dan banyaknya intoleransi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, GEMAYOMI melebarkan sayapnya menjadi Gerakan nasional.

Dari teror, radikalisme, penyegelan tempat ibadat, penyerangan masyarakat yang sedang menyelenggarakan ritual keagamaan/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dilawan. Dari Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi menjadi Gerakan Masyarakat Indonesia Melawan Intoleransi.

Ditengah pandemic Covid-19, GEMAYOMI juga turun tangan untuk ikut membantu APD dan lain-lain.

Yogyakarta, 12 Februari 2021.

Penulis: A. Gandung Sukaryadi, aktifis sosial kemasyarakatan DIY

1 Komentar

  1. Selamat Ulang Tahun GEMAYOMI.
    Semoga spirit toleransi menenggelamkan spirit kapitalisme agama yg mau menguasai Indonesia dengan kekerasan dimana belas kasih Allah justru dikalahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *