SILA KELIMA MENGHAPUS DISKRIMINASI

Oleh A. Gandung Sukaryadi

Sebagai salah satu umat Katolik, saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada yang terhormat Menteri Agama Bapak Yaqut, yang memberi pujian kepada umat Katolik.  Pujian itu membuat kami merasa lebih mantap menjalani hidup sebagai warga negara Indonesia yang beragama Katolik.

Disisi yang lain, pujian pak Menteri ini tentu membawa konsekwensi tersendiri. Setidaknya  mesti jaga diri, agar baik yang sudah dimeteraikan itu tidak luntur. Disisi lain yang lebih bermakna (menurut saya) sebagai bentuk refleksi atau pertanyaan; apakah sudah selayaknya, pujian itu diberikan kepada umat Katolik?

Realitanya, peran serta umat Katolik dalam membangun negara ini  belum maksimal. Kecuali itu bisa dihitung banyaknya orang-orang Katolik yang terlibat korupsi, ketidakadilan, kekerasan atau hal-hal negatif lainnya yang merugikan masyarakat, bangsa dan negara.

Memang dalam sejarah pergerakan kemerdekaan, zaman kemerdekaan dan zaman pembangungan serta era reformasi ini, belum pernah (dan tidak akan) umat Katolik mendirikan Negara Katolik Republik Indonesia. Umat Katolik ya tetap setia dan tidak bergeser dari keempat kesepakatan bangsa; Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hanna Dharma Mangrova.

Karena apa? Karena Gereja Katolik sudah membumi dan mengakar, jauh sebelum kemerdekaan.

Doa Pater Noster sudah menjadi doa Bapa Kami dan Rama Kawula sejak Rama Van Lith sekitar tahun 1907. De facto Gereja Katolik langsung mengindonesia, meski de jure menjadi Gereja Katolik Indonesia 3 Januari 1961, oleh Paus Yohanes XXIII, dalam Konstitusi Apostolik Quod Christus Adorandus.

MENTERI AGAMA DAN KETUA KWI

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bertemu Ketua KWI Ignatius Kardinal Suharyo di Wisma Uskup Keuskupan Agung Jakarta beberapa waktu lalu. (Sumber: Hidupkatolik.Com)

Sejak itu Gereja Katolik Indonesia otonom. Segala sesuatunya diatur sendiri; ya keuangannya, tenaga-tenaga pastoral (rama, bruder, suster, katekis dan dll). Jadi Umat Katolik tidak neka-neka, hidup seturut ajaran Gereja Katolik dan seturut Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta falsafah bangsa.

Hidup seturut ajaran Gereja Katolik dan seturut negara diajarkan oleh Uskup Albertus Sugiyapranata, dengan menjadi Katolik 100% dan Indonesia 100%. Artinya Uskup Albertus itu mengajak supaya katam beragama Katoliknya, tetapi juga katam Pancasilanya.

Menurut istilah P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dulu, ya agamis dan Pancasilais. Dikatakan kalau agamis belum tentu Pancasilais, tetapi kalau Pancasilais pasti agamis. Karena dalam Pancasila ada Berketuhanan Yang Maha Esa. Jadi dalam negara Pancasila masyarakatnya pasti ber-Tuhan (beragama atau berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa).

Apakah dengan demikian implisit dikatakan kalau negara agama lalu tidak Pancasila? Bisa jadi iya, karena yang dihayati dan dihidupi sila pertama saja.

Katam beragama dan katam Pancasila bagi umat Katolik sudah bukan merupakan masalah. Umat Katolik dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara taat asas Pancasila. Tidak ada yang bertentangan dalam menghayati iman Katolik dan Pancasila.

Dalam ajaran Katolik ada dua hukum utama, dan dalam kedua hukum itu tergantung semua hukum-hukum. Hukum pertama adalah kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap akal budimu. Hukum kedua kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Ada dua hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya. Dalam Pancasila sama. Dari lima sila itu, sila pertama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Sedangkan ke empat sila yang lain mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Sila Berketuhanan memberikan ruang yang bebas bagi masyarakat untuk memeluk agama, dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pada umumnya agama-agama juga memiliki ajaran hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya.

Dalam berdoa Yesus mengajarkan jangan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Jika berdoa mesti menyertakan sesamanya, dan doa itu diajarkan oleh Yesus kepada para murid.

Sepengetahuan saya, Yesus hanya mengajarkan satu doa, yaitu Bapa kami. Doa yang diajarkan itu bukan hanya untuk diri sendiri, mesti mengikutsertakan orang lain. Maka diawal doa menyebutkan Bapa kami, bukan Bapa-ku yang ada di surga. Di  akhir doa juga bebaskanlah kami dari yang jahat.

Bagi umat Katolik ke empat sila Pancasila merupakan pengejawantahan dari mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Maka menghidupi sila-sila Pancasila tidak bisa per-sila tanpa mengikutsertakan sila yang lain. Jangankan meninggalkan sila lain, dalam satu sila juga tidak bisa dipenggal begitu saja.

Dalam menghidupi dan mempraktikkan Perikemanusiaan tidak bisa mengabaikan keadilan. Dalam Pancasila sila kedua ada kata adil, dan di sila kelima ada kata keadilan. Ini menunjukkan bahwa dalam konteks hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara  adil dan keadilan sangat penting dan mendasar.

Keadilan akan memberikan hak dan kedudukan dalam hukum, setara bagi semua warganegara Indonesia. Ini akan menjadi semakin jelas Ketika dibaca seluruhnya dari sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Harusnya dengan sila kelima ini menghapus semua bentuk diskriminasi sosial.

Febri, 4-2021


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *