Idham Azis-Donald Trump dan Penciptaan Sejarah Baru

Oleh Hermen Sanusi Pr

            Hingar bingar pesta demokrasi di Amerika baru saja usai dan puncaknya adalah Inagurasi Presiden Joe Biden dan Wakilnya Kumala Haris tanggal 20 Januari kemarin. Demikian juga teka-teki siapa yang menduduki tahta TB1 sudah terjawab dengan terpilihnya Komjen Drs. Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal kapolri, pilihan Presiden Jokowi.

 Dari dua peristiwa ini, ada satu hal yang menarik, yakni sama-sama menciptakan sejarah baru menurut versi yang berbeda.

Donald Trump menciptakan sejarah baru dalam perjalanan demokrasi Amerika. Untuk pertama kalinya, sejauh yang pernah saya baca, seorang Presiden Amerika yamg kalah dalam pemilu menolak hasil pemilu dan mengerahkan masa untuk mempengaruhi hasil pemilu.

Kota Washington yang dijuluki Ibukota Demokrasi berubah menjadi ibukota yang anarkis, gara-gara Donald Trump yang menolak. Bagi Trump kekuasaan itu harus dipertahankan termasuk dengan cara-cara arkhais primitif yang ia tunjukkan setelah pemilu.

Ilustrasi/Pixabay.Com

Bagi Trump kekuasaan itu adalah sebuah hasrat (desire) yang digerakkan oleh kepentingan sendiri (self ineterest). Hal ini nampak jelas dalam kampanye pemilihan umum empat tahun yang lalu dan dalam kampanye untuk memperpanjang kekuasaannya. Trump memperlihatkan fobia yang berlebihan terhadap kehancuran Amerika yang dia ciptakan sendiri dalam imaginasinya.

Karena xenofobia, Trump membangun tembok perbatasan yang tinggi dengan Mexico untuk menghalangi imigran dari Amerika Tengah dan Amerika Latin datang ke Amerika Serikat.

Dia juga membunyikan genderang perang ekonomi (perdagangan dan mata uang) dengan China yang akhirnya membawa keruntuhan ekonomi. Selain itu dia juga fobia terhadap kaum Muslim. Demi keamanan negara, Trump tidak tanggung-tanggung untuk menyatakan perang terhadap negara apa saja yang menghalangi ambisi pribadinya.

Bagi Trump kekuasaan bukan menjadi sarana untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, keadilan sosial yang berlandaskan kebenaran, tetapi tujuan itu sendiri. Karena itu ia menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya.

Ia rela berpisah dengan Mike Pence di ujung jabatannya karena ia ingin mempertahankan kekuasaannya. Trump membangun narasi bahwa di tangannya Amerika akan kembali menjadi bangsa yang adikuasa (Make America Great Again). Hemat saya slogan ini merupakan tanda ketakutan Trump akan kehilangan kekuasaan. Karena itu dia juga tidak menghadiri inagurasi Presiden Biden karena dia sendiri masih merasa sebagai Presiden Amerika.

Fenomena ini mirip dengan kandidat presiden di Indonesia dalam dua kali pilpres, yang mengklaim diri menang menurut survey internal tim. Saat pengumumam hasil resmi dari KPU, bingung sendiri. Alhasil menciptakan narasi pemilu curang secara terstruktur, sistematis dan massal. Ketika ditanya, apakah ada bukti? Jawabannya berdasarkan.survey internal.

Inilah halusinasi kekuasaan yang dialami Trump dan kandidat Presiden Indonesia yang gagal berkuasa. Trump menciptakan sejarah baru untuk dirinya sendiri, tidak untuk Amerika. Barometer demokrasi Trump masih kalah jauh dengan barometer Rakyat Amerika itu sendiri.

Dampak dari sikap Trump ini, tidak hanya memecahbelah Amerika tetapi juga menimbulkan turunnya kepercayaan rakyat terhadap kehidupan politik di Amerika, terutama partisipasi dalam pemilu. Inilah harga yang harus ditanggung Trump.

            Selain itu Trump memisahkan moral dari kekuasaan, seperti yang dianut oleh Machiavelli. Dalam bukunya Sang Pangeran, Machiavelli menegaskan bahwa kekuasaan dengan moralitas haruslah dipisahkan.

Mengenai cara meraih kekuasaan, Machiavelli menekankan pentingnya sebuah pencitraan. “Kebanyakan manusia menilai lebih lewat mata dari pada tangan mereka. Setiap orang dapat melihat anda, tapi hanya sedikit yang dapat menyentuh anda. Seorang penguasa tidak perlu untuk menjadi ramah, dermawan, adil, pro-rakyat, taat, dan segala sikap baik lainnya dalam saat yang bersamaan. Hanya saja seorang penguasa harus memiliki keinginan untuk dianggap murah hati dan tidak kejam.”

Trump membangun citra dirinya sebagai pro rakyat yang telah lama dijajah oleh orang luar yang masuk ke Amerika dan mengambil harta kekayaan. Tentang hal ini, saya teringat akan sebuah  ungkapan para imigran yangterkenal : “ We are here now because you were there (kami ada di sini sekarang karena kamu pernah ada di sana (maksudnya negara para imigran).”

Trump lupa bahwa membanjirnya imigran ke Amerika merupakan dampak dari politik luar negri Amerika. Slogan Make America Great Again kini berubah menjadi Making America Small.

            Beda dengan Trump, Jendral Idham Azis menciptakan sejarah untuk korps Bhayangkara. Dengan penuh sukacita, solid tanpa beban, beliau menghantar Komjen. Listyo saat Fit and Proper Test di Komisi III DPR. Dia menghantar Komjen Listyo sebagai tanda dukungan, soliditas dan menegaskan bahwa pergantian jabatan Kapolri merupakan suatu keniscayaan.

Artinya itu pasti akan terjadi karena setiap jabatan dan kekuasaan selalu dibatasi oleh undang-undang. Tindakan dan langkah Jendral Idham Azis hendak menunjukkan kepada kita bahwa Kepolisian Republik Indonesia itu solid.

Komjen Listyo sendiri membawa sembilan personil, dari yang paling senior sampai junior untuk mendampingi beliau. Juga memperhatikan aspek gender dengan menghadirkan Brigjen Utari dalam fit and proper test di Komisi III.

Jendral Azis menghadirkan sebuah sejarah baru dalam tubuh Bhayangkara. Dengan tegas dia mengatakan kepada pers dan publik bahwa dia hendak memberi pelajaran kepada generasi Polri bahwa pergantian kepemimpinan Polri adalah suatu keniscayaan.

Selain itu untuk memberi teladan dan gambaran bahwa institusi Polri regenerasinya berjalan dengan baik dan mulus. Apa yang telah diputuskan oleh Bapak presiden sebagai pimpinan tertinggi Polri, di internal Polri hanya ada dua, kita laksanakan dan kita amankan, seperti yang dilansir Kompas TV.

Dengan menghantar Komjen Listyo Sigit Prabowo, Jendral Azis mewariskan tradisi baru yang harus ditumbuhkembangkan dan menjadi pembelajaran bagi generasi Polri berikutnya. Dengan demikian, Idham Azis menepis isu adanya kelompok-kelompok dan intrik dalam tubuh Polri, seperti yang dilansir oleh media online, misalnya adanya Kelompok Pa Tito, Kelompok Pa Budi Gunawan, Barisan Solo dan lain-lain.

Semua isu gugur dengan sendirinya ketika Jendral Idham Azis menghantar sendiri Komjen Listyo ke komisi III DPR. Jendral Idham Azis menunjukkan kerendahan hatinya, sikap legowonya untuk menerima pergantian ini dengan tulus, sebagai bagian dari proses regenerasi dalam sebuah lembaga, secara khusus dalam institusi Polri.

Dan saya yakin, Jendral Idham Azis tidak akan meminta dukungan siapapun untuk mempertahankan kekuasaannya di Polri seperti yang dilakukan oleh mantan petinggi TNI yang mencari kekuasaan di luar karena merasa kehilangan kekuasaan dengan menghembuskan isu kebangkitan PKI. Jendral Azis menciptakan rekor jendral yang berbeda kelas. Dengan penuh kemerdekaan dia merelakan tongkat komando itu kepada penggantinya.

Terima kasih Jendral.Azis, proficiat Komjen Listyo Sigit Prabowo, good bye Mr. Trump.

*) Penulis adalah imam diosesan Keuskupan Ruteng, Flores, NTT

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *