RASA MALU DALAM PILKADA

Masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Jepang sampai September 2021. Shinzo Abe (65 tahun), yang dilantik sebagai PM Jepang pada 2012, itu memilih mundur.

Ilustrasi/Pixabay.com

Sakit pencernaan yang dideritanya membuat dirinya merasa bersalah. Ia lantas menyatakan mundur dari jabatannya. Ia merasa penyakitnya akan mengganggu pekerjaannya. Seperti dilansir BBC Indonesia, Senin 9 Nopember 2020, Shinzo Abe meminta maaf kepada rakyat Jepang, karena tidak dapat memimpin pemerintahan hingga tuntas masa jabatannya.

Sikap seorang pemimpin yang seperti ini hanya ada di Jepang. Atau di Korea.

Antropolog Margareth Mead menyatakan, pada umumnya orang Asia Timur mempunyai rasa bersalah yang tinggi. Jika ia merasa gagal, tidak sanggup menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka ia akan merasa bersalah (quilty feeling).

Kejadian yang paling fenomenal adalah banyaknya serdadu Jepang yang melakukan hara kiri setelah kalah perang dari Amerika dan sekutunya pada Perang Dunia II. Mereka merasa bersalah telah gagal menjalankan tugas dari kaisar. Merasa malu kembali ke negaranya, lalu mereka membelah perutnya sendiri dengan samurai yang tajam.

Masih menurut Margareth Mead, rasa malu itu dibedakan menjadi dua. Rasa malu yang disebut shame culture, dan rasa bersalah atau quilty feeling.

Bedanya apa?

Shame culture atau budaya malu, menunjuk pada munculnya rasa malu jika orang lain telah mengetahui kelakuannya. Selama belum ada orang lain yang mengingatkan, menegur, memergoki atau bahkan menangkap basah (istilah KPK : tangkap tangan), seseorang walaupun telah melakukan perbuatan tercela akan tenang-tenang saja. Bahkan sudah ketahuan pun ia akan berusaha mengelak atau menutup-nutupi.

Qulity Feeling menunjuk pada perasaan bersalah. Rasa malu muncul dari kepekaan atau ketajaman hati nuraninya sendiri. Biarpun tidak ada orang lain yang mengetahuinya, seseorang akan merasa malu telah melakukan kesalahan. Lalu ia akan meminta maaf kepada banyak orang.

Dalam dunia politik di Indonesia, hampir pasti rasa bersalah ini tidak ada. Bahkan rasa malu pun tidak terlalu populer.

Maka harap dimaklumi jika menjelang pilkada ini, tim sukses atau paslon tertentu mulai memborong amplop, membagi-bagi uang untuk bitingan.

Masyarakat pun ada yang berharap mendapatkannya.

Nuwun sewu, nyuwun pangapunten, rasa bersalah dan rasa malu itu urusan nanti. Yang ada, adalah merasa malu jika nanti kalah.

Yang ada, adalah merasa bersalah, karena tidak mampu membagi uang lebih banyak.

Selamat menikmati pilkada dengan rasa seperti biasanya. Rasa pilkada yang lalu-lalu dan yang berlangsung dimana-mana.

Anton Sumarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *