PERTOLONGAN DARI MANUSIA, MUKJIZAT DARI TUHAN

Kencan Dengan Tuhan
Senin, 2 November 2020

Bacaan: Yohanes 5:6-8

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”
Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

ILUSTRASI/PIXABAY.COM

Renungan:
Seseorang yang lumpuh mengharapkan sebuah mujizat terjadi dengan menantikan goncangan kolam Betesda. Harapan tinggal harapan karena tidak ada seorang pun yang menurunkannya ke kolam.

Akhirnya datanglah Yesus dan bertanya, “Maukah engkau sembuh?” “Tentu saja, tetapi tidak ada orang yang menolong dan menurunkanku ke kolam! Bagaimanakah aku dapat sembuh?” demikian jawab orang lumpuh tersebut.

Ia mengharapkan mujizat, namun melandaskan imannya pada pertolongan manusia, sehingga mendamparkannya pada keputusasaan.

Maka datanglah Yesus membenahi cara berpikirnya yang salah, yang membuatnya terbaring di atas tilam selama 38 tahun. Yesus mengatakan, “Bangunlah, angkatlah tilammu, dan berjalanlah.” Ia pun bangun, mengangkat tilamnya, dan mulai berjalan, maka mujizat pun terjadi.

Kira sering mengalami kekeringan mujizat Tuhan karena kita membiarkan iman kita hanya terbaring di atas tilam pemikiran yang salah. Selain itu, kita tidak tahu bagaimana caranya membangun iman yang benar dan membuatnya bekerja.

Jika kita hanya membutuhkan pertolongan, manusia dapat memenuhinya. Tetapi jika kita membutuhkan mujizat, maka hanya Tuhanlah yang dapat melakukannya.

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk mengetuk pintu sesama kita dan berharap mereka dapat menolong kita?

Dan, berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk mengetuk pintu hati Tuhan dan menyatakan ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya?

Di situlah terletak kunci untuk menghadirkan mujizat di dalam hidup kita.

Curamnya jurang dan tingginya gunung persoalan hidup yang harus kita jalani, serta ketidakberdayaan kita sebagai manusia, sering mendamparkan kita pada keputusasaan.

Sudah saatnya kita bangkit dan membuang segala keputusasaan dan bawalah kaki kita melangkah ke hadirat-Nya. Semakin dalam kerinduan kita akan mujizat-Nya, semakin sungguh kita harus berdoa.

Melalui doalah kita sedang membangun iman kita dan membuatnya berjalan dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, mujizat adalah bagian terindah yang Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan Yesus memberkati.

Doa:
Tuhan Yesus, mampukan aku selalu memercayai-Mu dalam segala situasi yang terjadi di hidupku. Yakinkah aku, bahwa bersama dengan-Mu semua akan baik-baik saja. Amin. (Dod).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *