Mengobrol dengan Musisi Didiek SSS: Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya

 Pembaca yang budiman, di episode ke 4, dibahas bagaimana Lourdes Callista bertalenta yang luar biasa dengan perfect pitch dan absolute pitch-nya. Ibarat kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

DIDIEK SSS DAN LOURDES CALLISTA
Ibarat pepatah: Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Air hujan jatuh ke pelimbahan. Bakat anak yang hebat, dari papa yang hebat juga.
Foto: Dokumen Pribadi

Bakat anak yang hebat, yaaa nurunlah dari orang tua yang hebat juga. Atau ada pepatah yang lain: air hujan jatuhnya ke pelimbahan juga.

Di episode ke 5 ini, ganti saya membahas perjalanan kiprah seorang Didiek SSS sebagai musisi professional yang sangat piawai bermusik.

Kiprah bermusik Didiek SSS, sudah mulai sejak berusia 8 tahun. Dalam usia anak-anak itu, Didiek sudah bermain flute secara solo mengiringi orkes simfoni RRI Surakarta. Dua tahun berikutnya, kepiawaian Didiek dalam meniup flute sudah bisa mengimbangi musikalitas musisi-musisi yang berusia jauh di atasnya.

Dalam usia remaja (tahun 1977, musisi kelahiran tahun 1964 ini ikut mengisi musik rekaman penyanyi keroncong Mus Mulyadi. Ini membuatnya tertarik pada musik keroncong dan berlanjut ke musik jazz. Didiek menjadi pengisi intrumen dalam rekaman penyanyi top Indonesia seperti Vina Panduwinata, Harvey Malaiholo, Utha Likumahuwa, Ireng maulana, Ermy Kullit dan Mergie Siegers.

BERSAMA USKUP KEUSKUPAN AGUNG PONTIANAK MGR AGUSTINUS AGUS
Antara 60-70 persen bermusik untuk melayani gereja-gereja

Didiek bermain di orchestra bersama musisi teratas tanah air seperti Embong Rahardjo, Addie MS, Erwin Gutawa, Elfa Secioria, dan Jimmy Manopo.

Masih ada yang ingat sewaktu Didiek SSS tampil di TVRI sebagai konduktor dalam acara Nada & Irama? Ya, itu pada 1985, dimana Didiek memimpin orchestra atau  bidband yang sering menampilkan artis-artis Indonesia dan Malaysia.

Didiek mengaku dalam gaya meniup flute atau sax banyak dipengaruhi musisi dunia  seperti Hubert Laws, James Calway, dan David Sanborn.

Pada akhirnya, Didiek SSS mengabdikan dirinya sebagai pengajar musik di Seminari Wacana Bhakti Jakarta. Hingga tahun ini Didiek sudah mengajar musik untuk para calon imam itu selama 24 tahun.

Sementara itu,  Didiek banyak bermain musik sendirian sebagai solois. Didiek banyak bermain di berbagai festival music jazz, dan melayani di gereja-gereja. Dan akhirnya berduet dengan putrinya Callista, melayani di gereja-gereja.

Kepada Mas Didiek, saya tanyakan, apakah sudah benar-benar meninggalkan panggung musik dunia? Maksudnya, tidak lagi bermain musik di luar gereja.

Menurut Mas Didiek, dia tidak mematok hanya bermain untuk gereja saja.

 ”Saya sebagai musisi professional masih main untuk umum. Terakhir ini sekitar 60-70 persen main untuk gereja. Kalau umum itu kita bicara professional. Masih banyak perusahaan yang meminta saya tampil di acara lauching produk, ulang tahun bos perusahaan, dlll.”

PENULIS DAN DIDIEK SSS
Foto: Anton/Thetungkem.Com

Nah, semakin bermusik dengan hati ya Mas Didiek. Dan sebelum mengakhiri obrolan di episode ini, Didiek SSS menegaskan, semua orang diberi talenta masing-masing. “Kita hidup hendaknya bisa bermanfaat bagi Gereja dan masyarakat. Hiduplah dengan penuh kasih!” pesan Didiek SSS.

Penulis: Anton Sumarjana/TT.Com (sebagian dari Wikipedia)

.

1 Komentar

  1. Pengganti Embong Rahardjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *