PULANG (Tiga Bintang di Langit Jakarta)

Thetungkem.Com, CERITA PENDEK, Minggu 19 Juli 2020

Agus menelentangkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumah Diah. Bibirnya mengulas senyum.

Iustrasi
Foto: Pixabay.com

Pandangnya lurus menatap wajah Diah yang  nyaris menempel di pipinya. “Trimakasih sayang,” ucap Agus lirih. Diah mengecup pipinya. “Aku bahagia melakukannya untukmu, Mas,” bisik Diah.

Agus terlelap setelah itu. Diah, perempuan yang setahun belakangan ini menyusup di relung hatinya berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

 Mereka seperti  sepasang merpati yang malam demi malam terbang mengarungi  angkasa. “Getar rasa di hati kita, adalah daya untuk kita mampu merentang sayap, meliuk bersama di angkasa, melintasi malam demi malam,” Diah berucap lirih sambil memandang penuh cinta pada kekasihnya yang terbuai rasa dalam lelap tidurnya.

Agustinus Dewa Setiaji memandang Jakarta. Dari lantai 25 apartemen di tengah kota, jendela membingkainya.

Diah meninggalkannya saat pagi merambat ke siang. Di dapur telah tersedia sarapan pagi, juga makanan untuk siang hari. Diah tidak akan meninggalkan apartemennya sebelum ia yakin Agus-nya tak akan kelaparan.

Agus memandang jauh. Puncak gedung-gedung jangkung tampak nyata bermandikan cahaya langit yang tanpa mega. Nun di bawah sana, di jalan protokol Ibu kota, mobil-mobil serupa tamia, merayap. Bibirnya mengulas senyum. “Ah, beruntungnya aku tak tersiksa kemacetan di bawah sana,” gumam Agus.  

Hari ini memasuki bulan keenam Agus tinggal di apartemen Diah. Saat ia berdiri mencangkung berbingkai jendela di kamar Diah, seperti siang ini, ia merasa tinggal di Manhattan. Lalu, setelah rembang petang, sambil menanti perempuan yang senantiasa memanjakannya itu pulang, ia kerap menikmati remang malam Jakarta. Gemerlap lampu-lampu nan terang yang memancar melalui kaca-kaca jendela gedung-gedung menjulang, mengingatkannya pada novel “Seribu Kunang-kunang di Manhattan,” karya Umar Kayam. “Di sini juga banyak kunang-kunang,” ucapnya lirih.

Dan jika petang merayap memasuki malam, Diah belum juga kembali, Agus mulai kesepian. Ia bergumul dalam jebakan waktu. Yang bisa ia kerjakan hanyalah mondar-mandir atau menonton televisi. Apartemen satu kamar, plus ruang tamu dan dapur ini pun bisa puluhan kali ia  tuntasi. Lalu, keresahannnya berlabuh di tempat tidur. Ia pun mendengkur.

Setahun silam

“Maaf, apakah Anda Ibu Diah?” Agus menyapa perempuan yang baru saja keluar dari sedan berwarna biru. Perempuan itu menatap tajam ke wajah lelaki yang tak dikenalnya itu.

“Anda siapa?”

“Nama saya Agus, Bu. Maaf saya nekat menemui Anda. Saya ingin menyerahkan lamaran kerja. Saya mengenal Anda di Facebook. Anda adalah sosok manajer yang ramah dan baik hati, begitu kesan saya tentang Anda.”

Perempuan yang disapa Agus sebagai Ibu Diah itu terdiam. Dalam hatinya ia tertawa. Ia merasa tak mendapat firasat  apa-apa semalam, sehingga pagi ini ada lelaki asing yang tiba-tiba mencegatnya. “Yah, tehnologi komunikasi sekarang sungguh canggih, kenapa aku mesti heran dia  bisa menemukan diriku di facebook,” ia membatin. “nekat juga neh orang,” ia membatin.

“Ah, baiklah. Saya Diah. Mana berkas lamaranmu?”

“Oh, trimakasih Bu Diah. Ini berkas lamaran saya. Mohon bisa diterima.” Agus menyerahkan map berwarna biru, sama dengan warna mobil Bu Diah.

Diah menerima map itu sambil berlalu.

 “Bu..bu Diah, kapan saya akan mendapatkan jawaban?” ujar Agus, tergopoh mengejar Bu Diah.

“Yah, tunggu saja!”

Diah melangkah cepat. Agus mengikuti sosoknya sampai menghilang di balik pintu lobi gedung tinggi itu. “Ah, leganya. God Bless You, Bu Diah,” gumam Agus.

 Sejak itu Agus menghitung hari.

“Halo, ini  dengan Agus kan?” suara perempuan dari seberang membungahkan dirinya, di suatu siang, hari ketiga puluh sejak berkas lamaran kerjanya diterima Bu Diah.

“Iya, saya Agus, benar saya Agus.”

“Saya Diah, datanglah ke kantor saya besok pukul delapan!’

“Bu Diah, terimakasih, saya akan datang besok.”

 Hati Agus berbunga.

 Esoknya, ia keluar ruangan Bu Diah dengan muka berseri-seri. Mulai hari berikut ia  bekerja di tempat Bu Diah. Sebelum kembali ke kamar kost temannya tempat ia menumpang selama sebulan ini, Agus menyempatkan diri berdoa di gua Maria Gereja Katedral. Ia mengucap syukur atas mudahnya mendapat pekerjaan di Ibu Kota.

***

“Aku mau ke WTC, kamu ikut aku, nanti bantu aku bawa barang-barang ya!” ujar Bu Diah. Agus yang ia panggil ke ruang kerjanya mengangguk saja.

“Kamu bisa bawa mobil, kan?”

“Siap, Bu. Di daerah saya biasa bawa truk.”

Bu Diah sedikit membelalakkan mata. Ia tertawa kecil.

Maka ke WTC-lah mereka.

Mengantar Bu Diah berbelanja ke pusat perbelanjaan siang itu merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi Agus. Bu Diah tidak suka ia hanya menunggu di mobil. Agus diajak berkeliling dari konter ke konter, lalu berakhir makan di Food Court.

 Itulah untuk pertama kalinya Agus menyertai atasannya berbelanja. Setelah itu Bu Diah kerap memintanya menemani, tidak hanya berbelanja, juga mengantar rapat atau sekadar jalan untuk makan.

“Kamu tidak perlu memanggilku Ibu. Aku senang kalau kamu panggil aku Diah saja,” kata Bu Diah di suatu senja, usai berbelanja. Agus terdiam. “Tidak mengapa, di luar kantor kita ini teman,” lanjutnya.

Agus tersedak. “eit, minum dulu deh!” Bu Diah mengulurkan sebotol minuman. Agus menghirupnya pelan. “Baik, aku ngikut saja apa mau Bu Diah,” ujarnya. “Kok Bu, seh, Diah saja.”

Agus menyungging  senyum sambil mengangkat alis matanya. “Diah, yuk, kita pulang, senja sudah usai!” ujarnya. 

          Minggu demi minggu, bulan berganti bulan kedekatan mereka kian sempurna.

          Agus menggeliat.“Sayang, kau baru datang,” ujarnya, lirih. Ia terjaga saat Diah berbaring di sisinya. “Maafkan aku sayang, aku lembur,” ucap Diah, mengalirkan angin lembut ke daun telinga Agus.

          “Tidak biasanya kau lembur, sayang?” Ia miringkan tubuhnya, menerima sosok perempuan yang menempelnya.

          Selebihnya adalah sunyi. Seekor cicak yang lekap di dinding menyergap mangsanya, seekor serangga kecil yang naas tercium hidungnya. Gerakannya teramat gesit tanpa bunyi. Sementara dua insan di peraduan itu semakin lepas berbaku desah.  

          Hari berikutnya, saat rembang petang, ufuk langit barat kembali jingga. Namun senja tak jua membawa Diah kembali ke apartemennya. Agus dilanda gelisah. Ia membuka jendela, melepas pandang ke kegelapan malam. Tiga bintang di langit berbinar-binar seperti menyapanya. Agus terkesima. “Aneh, di langit Jakarta masih ada bintang,” pikirnya.

          Mendadak angin ketinggian terasa keras menampar wajahnya. Dingin. Ia segera menutup  jendela, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia hidupkan TV, menemukan  News  TV Channel.       

         ‘Diah,” tiba-tiba ia memekik. Matanya mendelik. Di layar TV terpampang dengan gamblang, beberapa petugas berseragam KPK menggiring  Diah memasuki mobil tahanan. Sementara puluhan wartawan merubungi teman sesyahwatnya itu.

      Ketakutan sontak merampas nyalinya. Ia tak mengira telah berelasi intim dengan perempuan koruptor.  “Aku tak mau jadi pesakitan.”

       Malam masih tersisa. Tapi  Agus tak mau menunggu pagi. Saat rembulan masih bulat melawan pekatnya malam, ia memutuskan untuk hengkang dari apartemen Diah. Sejenak ia  sempat memandang ke luar jendela. Tampaklah tiga bintang di langit seperti berpijar hanya kepadanya. “Ibu, aku pulang,” ucapnya, sambil menderapkan kakinya.(Anton/Thetungkem.Com)     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *