Bandar Sri Aman

Tepi sungai Batanglupar, di kota Bandar Sri Aman, menjelang senja.

Sampan kecil, berpenumpang seorang lelaki bertopi lebar, dengan pendar lampu petromak tengah menghilir pelan. Dari saung kecil di tepian sungai, aku memandang arus sungai yang mengalir panjang ke Laut Cina Selatan.

Tawau.Com

Sendirian aku di tempat yang tenang ini. Duduk dengan kedua kaki menjuntai ke air sungai yang berwarna kecoklatan.  Benakku dijejali kecemasan akan nasib Surti, kekasihku. Kemarin sore dia tertangkap polis sepulang kerja sebagai Sales Promotion Girl di sebuah supermarket di Bandar Sri Aman.

Itulah pekerjaan Surti sebagai pendatang di Sabah sejak tahun lalu. Bersama puluhan orang dari Jawa, Surti  masuk ke wilayah Malaysia Timur melewati jalan setapak yang mengular di hutan bukit  Kelinkang.  

Aku tak tahu Surti ditahan di lokap mana. Mungkin di lokap pinggir kota, atau digelandang ke Kutcing atau Semanggang. Gelap kabar tentang dia. Orang Indon selalu mendapat perlakuan buruk di lokap. Ini membuatku semakin cemas.

Seminggu lalu di tepi sungai Batang Lupar ini, Surti memberiku kejutan. Dengan kepala menyandar di pundak, ia berucap lirih. “Mas, kau akan jadi ayah.”

Aku terdiam. Kutatap jingga langit di ujung cakrawala. Awan tipis yang menaungi sang surya menjelmakan langit menjadi temaram.

Aku bahagia  mendengar pengakuan Surti. Setahun lalu asmara kami bertaut. Sejak itu keindahan-keindahan beruntun membuai rasa di setiap perjumpaan.

Kuelus rambutnya. “Sudah kau pastikan sayang?” aku bertanya, sekadar mencari keyakinan.

“Ya mas. Tadi pagi dengan test pack, positif.”

        Jalan di tepian sungai lengang. Satu dua mobil Proton Saga saja melintas. Sementara di ranting-ranting pohon yang menaungi jalan, puluhan burung gereja bertengger memuntahkan kecipak “cit-ciricit-cit”, meriah  sekali.  Seronok kicau burung-burung kecil itu seperti mendendangkan tembang untuk kami berdua.

        Kepala Surti kian menekan pundakku. “Aku sayang kamu Surti. Kau akan segera kulamar supaya kita bisa menikah setelah Natal ini.” Air mata menetes di pipi Surti. Kuusap lembut, lalu kukecup keningnya.”I love you”, kubisikkan kata itu ke telinganya.

“Trimakasih ya Mas, telah menemaniku senja ini,” jawab Surti, sambil melepas pelukku.

Di pastoran Maria Abok, Padre Raj menyambutku ramah. Pastor Jesuit asal  India yang mengepalai Paroki Maria Abok, Bandar Sri Aman ini mempersilakan aku menunggu di ruang tamu. Suasana sepi sore itu. Gereja ini merupakan satu-satunya gereja Katolik di kota kecil ini. Sebagian besar umatnya adalah suku Dayak Iban, sisanya orang Cina dan pendatang dari berbagai daerah lain di Indonesia.

        Pohon Natal di pojok ruang tamu berhias beragam asesoris. Ucapan “Selamat Natal dan Tahun Baru” yang menggantung di atas pintu kian menguarkan aroma damai menyambut Hari Kelahiran Yesus Kristus.

        Padre Raj muncul dari balik pintu. Ia tersenyum lebar. “Ada apa ini, Thomas? Ayo… ayo, kita bicara-bicara!” tutur Padre Raj, sambil duduk. “Saya sudah dengar kabar tentang Surti,,,ya ya, mari..mari kita cari tahu dimana dia,” lanjutnya.

        Ia berusaha beredam kecemasanku. Padre Raj memang dikenal sebagai penyelamat orang-orang Indon. Setiap ada yang kena ‘blok’, ia berusaha mencari keberadaannya.

         “Padre, saya cemas sekali.”

        Padre Raj mengelus kepalaku. “Benarkah kalian telah berencana menikah setelah Natal ini ?” ia memandang ke arahku. Aku menunduk agak malu.

        “Benar Padre,” jawabku singkat. “karena itu Padre Raj, pikiran saya semakin kalut,” lanjutku.

        “Saya paham Thomas, kita akan lacak keberadaan Surti. Kamu tunggu saja. Kamu tinggal saja di pastoran supaya kalau ada perkembangan saya segera bisa mendapatkan kamu. Ok?. Kamu juga aman di sini”

        Aku menganggukkan kepala. Tawaran Padre Raj membuatku lebih tenang. Aku merasa ada surga di pastoran ini.

        Waktu seakan merambat. Aku terkurung di pastoran tanpa berani ke luar. Bahkan untuk membeli rokok di toko sebelah aku kuatir kena cokok. Kabar bahwa Polis Malaysia melakukan ‘blok’ di berbagai tempat membuat nyaliku menciut untuk nekat mencari Surti ke lokap-lokap yang dikabarkan menjadi tempat penampungan bagi para TKI yang terjaring razia.

 Hari demi hari selama sepekan ini, aku tak beranjak dari pastoran. Aku sendiri juga pendatang gelap, tak mampu berbuat banyak. Cuma  Padre Raj yang kuharapkan. Setiap kali dia pergi mencari Surti, harapanku membuncah, namun saat dia kembali tanpa hasil, batinku seakan menyerpih. Kalau sudah begitu, yang aku bisa, hanya melambungkan  pinta  pada Yang Maha Kuasa, agar calon bayi dalam kandungan Surti boleh tumbuh menjadi bayi yang sesungguhnya. Bukankah Bunda Maria, akhirnya juga berolah tempat untuk melahirkan Sang Putra, meski tempat itu hanya berupa kandang domba. Maka, aku juga percaya akan ada pertolongan untuk Surti.  

Pagi masih terasa hangat ketika telpon ‘bimbit’ Padre Raj bergetar. “Hallo, oh ini Padre John, ada info barukah?” kulihat wajah Padre Raj berseri. “Oh, baik-baik, saya segera ke sana. Trimakasih,” ucapnya sambil melepas telpon dari telinga.

Padre John adalah rekan imam yang berkarya di antara para TKI. Ia berkeliling dari kamp ke kamp lain, sampai masuk ke daerah perkebunan.

Aku pergi bersama Padre Raj dengan naik Jeep. “Thomas, kuminta kau sabar dan tabah. Padre John mengabarkan, ada seorang gadis diserundung  di lokap Semanggang. Blooding!

“Padre Raj,” aku cuma bisa memekik.

“Kita berharap, dia bukan Surti,”

“Saya cemas sekali Padre.”

“Tenangkan hatimu, Thomas!”

Jeep melesat cepat melindas jalur  Bandar Sri Aman-Semanggang yang lebar dan mulus. Jalanan terasa sunyi, karena hanya satu dua mobil dan bus yang melintas. Sesekali sepeda motor dengan lampu berpendar dipacu kencang sang pengendara. Semanggang terjangkau dalam 20 menit saja.

Lokap di pinggiran kota. Padre Raj bergegas menerobos kerumunan polis di pintu masuk. Di kantor kepala lokap, Padre mendapati Surti sedang duduk dengan muka menunduk. “Surti…” aku memekik. Surti menengadah ke arahku. Mukanya sembab, basah air mata. “Surti, kau baik-baik saja di kantor polis, kan?”  Tangisnya pecah. Ia tak beranjak. Aku merengkuhnya. Memeluknya erat.

“Thomas ajak Surti ke pastoran, kita bicarakan di sana,” Padre Raj berbisik di telinga kananku. Ia lalu berbincang dengan kepala lokap. Tak lebih dari lima menit, kami kembali melesat ke bandar Sri aman.

 Selama perjalanan Surti diam dan terus menunduk. Ia terkulai di pundakku. Aku tahu apa yang mau dikatakan Padre Raj tentang Surti. Pastor yang sangat kebapakan ini akan membujuk aku untuk menerima kenyataan pahit, bahwa surti telah diperkosa di lokap.

Kebahagiaan yang mulai kurenda bersama Surti terkoyah sudah. Janin dalam rahim Surti yang damai itu telah tercabik-cabik. Pemerkosaan itu memungkasi kehidupan yang baru mulai.

Mobil melaju kencang menjauh dari Semanggang. Bandar Sri Aman, kian mendekat. Di kota kecil ini orang-orang menanti kelahiran Sang Pembawa Damai. Tapi, saat ini darahku memanas terbakar  amarah. Aku tahu Padre Raj akan membujukku untuk menerima getir nasib ini.

1 Komentar

  1. Yang lemah.. yang miskin, mudah tertindas dan tak berdaya. Sering kebanyakan enggan melindungi karena takut terlibat. Surti.. sosok gambaran yang lemah.. miskin dan tertindas. Kekuasaan adalah iblis senyatanya yang hadir dalam sosok tubuh manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *