SYC Kembali Menjadi Titik Kumpul Orang Muda

Thetungkem.Com, Yogyakarta, Minggu 12 Juli 2020

Pada setiap menjelang senja, satu persatu orang muda berdatangan ke Syantikara Youth Centre (SYC). Mereka adalah para mahasiswa kos yang mengambil nasi bungkus untuk makan malam.

Tiap hari sekitar 200 perantau muda yang lagi belajar di Jogya ini datang mengambil nasi bungkus untuk dirinya sendiri, atau mengambil titipan temannya.

ABSENSI
Seorang mahasiswa sedang mengisi Daftar Absensi, penerima bantuan nasi bungkus dari SYC. Semua penerima terdaftar dan wajib mengisi daftar pesanan hari itu. Nasi bungkus sekarang ini tidak lagi dibungkus, tapi diwadahi tempat khusus dengan nama masing-masing penerima bantuan.
Foto: Dokumen SYC

Koordinator Syantikara Youth Centre (SYC) Suster Mariati CB mengungkapkan, pihaknya menyiapkan nasi bungkus sejak awal April lalu. Jumlahnya berkisar 200 bungkus per hari, dengan jumlah terbanyak 275 bungkus pada Mei lalu. Hingga  Sabtu 11 Juli 2020 ini, SYC masih menyiapkan nasi bungkus, tetapi jumlah semakin menurun “Terakhir, Jumat kemarin kami siapkan 45 nasi bungkus sesuai kebutuhan,” ujar Sr Mariati.

SEMUA TERCATAT
Sr Mariati CB menunjukkan catatan kegiatan berbagi nasi bungkus untuk para mahasiswa kos ini. Daftar donatur, penerima bantuan, daftar belanja, sampai menu mingguan semua tercatat rapi.
Foto: Anton/Thetungkem.Com

SYC hanya meminta para mahasiswa kos yang membutuhkan nasi bungkus untuk memberikan nama dan nomer kontak. Ini untuk mendata dan membuat WAG penerima bantuan. Dengan demikian, pihaknya bisa menyiapkan nasi bungkus sesuai kebutuhan yang diminta. “Kami punya daftar semua penerima bantuan. Siapa, kuliah dimana, kos dimana,” ungkap Sr Mariati.

Pelayanan terhadap para mahasiswa kos ini menurut Sr Mariati, mulai sejak awal April. Dimulai dari permintaan Ketua Yayasan Syantikara Sr Krispiyani CB. Koleganya ini meminta SYC untuk menyediakan minuman Seruni, sebanyak 50 liter per hari. Minuman ini dimaksudkan untuk meningkatkan imunitas para dokter dan perawat yang merawat pasien Covid 19 di RS Panti Rapih.

KESIBUKAN DI DAPUR
Dibantu relawan dan karyawan SYC, Sr Mariati CB menyiapkan sekitar 200 nasi bungkus lengkap dengan sayur dan lauk setiap hari sejak April hingga hari ini, dan masih akan terus berlangsung.
Foto: Dokumen SYC

Sr Mariati menyanggupi pesanan itu. Ia merasa ada relawan yang bisa membantu menyiapkan minuman itu. Mereka adalah tujuh mahasiswa yang ikut tinggal di SYC sejak krisis akibat wabah korona ini. Bersama mereka Sr Mariati membuat minuman Seruni itu. Tetapi masih ada waktu longgar. Sementara itu Sr Mariati merasa wabah virus korona itu membuat banyak mahasiswa asal luar kota mengalami kesulitan. Lalu Sr Mariati mengajak para relawan yang masih kuliah ini untuk berbelarasa.

“Saya ajak mereka berbelarasa dengan teman-teman kos. Kami membuat nasi bungkus,” kata Sr Mariati.

Sr Mariati dan para relawan itu membuat nasi bungkus sebanyak 50-90 bungkus per hari. Lalu mereka jual di tepi jalan di depan Syantikara. Harga per bungkus Rp 3 ribu.  “Sekadar kami bisa beli bahan untuk dimasak lagi,” tutur Sr Mariati.

Vikep DIY Romo Andrianus Maradiyo Pr mendukung kegiatan ini. Kata Sr Mariati, Rm Dio, demikian pangglan akrabnya–, memberikan uang sakunya sebulan untuk membeli beras. Lalu Ketua Komisi PSE Kevikepan DIY Romo Jonathan Billie juga mensuplai sayur dan lauk. Dukungan dua imam ini pun menggerakkan awam untuk peduli. “Banyak umat yang peduli lalu menyumbang ke kami, baik berupa uang maupun bahan makanan,” ungkap Sr Mariati.

Sr Mariati mencatat detil semua sumbangan. Ia juga memberi laporan per minggu melalui WAG. Misalnya,  Donatur siapa saja? Jika  bentuk sumbangan berupa uang dari siapa, untuk beli apa? Jika sumbangan dalam bentuk bahan, dicatat bahan dari siapa, apa bentuknya dan berapa jumlahnya.

            Sr Mariati juga membuat daftar menu per minggu. Yang terdiri dari nasi, sayur buncis, oseng daun papaya, tempe melet, oseng kacang panjang, tauge, omelet mie, tempe lombok ijo, balado ikan kranjang, dan lain-lain. “Menu tidak berlebihan, yang penting sehat dan segar,” ujar Sr Mariati.

            Pukul 16 biasanya nasi bungkus sudah siap. Di tempat yang telah disediakan, sudah ada yang berjaga. Mereka di antara para penerima bantuan itu mengatur jadwal untuk bergiliran melayani. Sedangkan yang memasak adalah para relawan dan karyawan SYC.

Mereka mengambil sendiri nasi bungkus yang telah disediakan. Ada pula yang menitip teman untuk mengambilkan. Tetapi semua telah melapor bahwa akan mengambil pada hari itu. Para mahasiswa itu dari berbagai perguruan tinggi di Jogya: .USD, STIPRAM, UGM, STIPER, UKDW, Janabadra. Mercubuana, Unprok, UST, UNBY, YKPN, APMD, UIN, ITMY, UII, dan sebagainya. “Mereka yang sering datang ke sini, ke depan akan menjadi komunitas Syantikara,” ujar Sr Mariati.

TEMPAT MENGAMBIL BEKAT TUHAN
Di tempat ini para mahasiswa kos mengambil nasi bungkus, dilayani oleh sesama penerima bantuan yang bergiliran jaga.
Foto: Anton/Thetungkem.Com

Hampir tiga bulan melayani para mahasiswa kos ini, membuat Sr Mariati berefleksi. Katanya, kesempatan berbagi ini menjadi peluang dirinya untuk  sungguh-sungguh menghayati dan mewujudkan semangat CB yang tanggap situasi terhadap orang-orang berkesesakan hidup.

“Di sisi lain menjadi peluang bagi saya yang dipasrahi untuk menghidupkan Syantikara Youth Centre. Syantikara menjadi diminati orang muda dan titik kumpul orang muda,” tegasnya.

Sebelum wabah Covid 19,SYC ini dikenal sebagai tempat Dugem orang-orang muda. Termasuk para mahasiswa tentunya. Dugem yang dimaksud adalah Duduk Gembira, bukan dunia gemerlapnya kaum seleb dan sosialita. (Anton/Thetungkem.com)

5 Komentar

  1. SYC Kembali Menjadi Titik Kumpul Orang Muda – Thetungkem.Com
    cxytofddnz http://www.gu1711ya53qq85feyoo7zg171u31m3w6s.org/
    [url=http://www.gu1711ya53qq85feyoo7zg171u31m3w6s.org/]ucxytofddnz[/url]
    acxytofddnz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *