Suster Lestari

Aku sering bertandang ke panti asuhan. Panti Asuhan ini dikelola oleh para Suster pengikut Santo Fransiskus Asisi. Suster Lestari, adalah pimpinan panti asuhan ini. Iya, aku lebih sering memanggilnya, Suster Lestari, atau Suster Tari, daripada Suster Dorothea. Aku lebih mudah dan enak mengucapkan Lestari daripada Dorothea.

“Aku tak pernah menyangka bakal  punya anak sebanyak ini, Mas,” tutur Suster Lestari, dalam binar wajahnya. Aku menemani dirinya  saat ia membawa anak-anaknya berwisata di pantai Pasir Putih. Dari bawah pohon pantai yang rindang, kami mengawasi puluhan anak panti yang tengah asik bermain pasir di ujung lidah ombak  selat Sunda.

                 “Apakah suster bahagia menjadi ibu mereka?” tanyaku, di sela desir angin pantai. Ia menatapku. Kupandangi kerudung abu-abunya berkibar serupa bendera pusaka sebelum aubade.

                “Tentu aku bahagia, Mas. Aku yakin, Tuhan menempatkan aku di panti ini, di tempat itulah panggilan hidupku. Mereka sangat bermakna buat aku, demikian pula sebaliknya, aku bahagia karena mereka membutuhkan aku.”

                “Wow…” aku cuma bisa mendesis mendengar pengakuannya itu.

                Aku memandang ombak yang tak jeda bergulung dari tengah samudra. Silih berganti gelombang kecil membesar membentur pantai nan landai.

Aku merenungi ombak yang bergulung itu. Dengan buih putih di lidahnya, sang ombak tiada henti memesrai pantai, membasahi ujung-ujung kaki anak-anak, memberi rasa dingin yang menyegarkan. Seringkali, seperti gulungan ombak yang tiada henti, silih berganti membasahi pasir pantai, para dermawan silih berganti menyumbang panti. Ada penyumbang perorangan, penyumbang berkelompok, perusahaan, organisasi dan lain-lain. Semoga keiklasan para dermawan itu sanggup menghantar anak-anak yang sebagian besar tak berayah atau beribu atau kedua-duanya ini dapat mencita gapai-gapainya, eh salah, menggapai cita-citanya. Bukankah anak panti juga boleh bercita-cita?

                 “Suster, kau kumpulin anak-anak ya, aku mau potret suster bersama mereka, berlatar ombak dan laut lepas ah, sungguh indah loh,”  perintahku padanya.

                Suster Lestari  mengikut saja. Ia berteriak memanggil semua anaknya. Anak-anak beramai-ramai mendekat lantas mengambil posisi membelakangi laut.

                “Nah, oke ya. Suster di tengah donk. Anak-anak semua berpelukan ya. Saat ombak datang kalian berteriak sambil melompat tinggi-tinggi ya. Siap….!” aku memberi aba-aba sambil mengatur lensa kamera. Saat ombak bergulung ke tepian, mereka berjingkrak. Horeeee!!!  Klik—klik…klik…kena tiga jepretan. View yang mempesona. Mereka bersorak lalu kembali menghambur ke lidah-lidah laut yang putih berbuih, segar.

                “Mas, curang ya kamu. Lihat jubahku!” Suster Lestari  membentangkan kedua tangannya. “Ha ha, sori…sori…” aku tergelak. Ujung jubah putihnya basah kuyup terendam air laut saat berfoto tadi.

                “Yuk kita jalan sus, teriknya mentari akan membuat jubahmu kembali kering.”

                Kami menyusur pantai, merasakan kelembutan pasir putih di telapak-telapak kaki, menangkap desir angin yang membawa kekhasan aroma pantai: amis.

                “Sesekali tanggalkan jubahmu deh. Ke pantai kok pakai jubah, gak bebas kan?” kulirik mukanya.

                “Bebas apa?”

                “Bebas bergerak donk. Pakai saja celana pendek dan kaos longgar. Santailah. Bolehkan, suster tampil kasual?”

                “Ah, wong edan,”

                “weeh…” aku meringis ke hadapannya. Suster Lestari  cuma tersenyum. Tahan godaan juga neh, suster yang satu ini, aku goda seperti itu masih saja  tampil suci.

                Siang perlahan menyingkir memberi tempat pada senja. Semburat merah di cakrawala memberi tanda anak-anak panti yang masih betah bercengkrama dengan air dan pasir pantai untuk berhimpun di pondok pantai. Setelah menikmati bekal, Suster Lestarimengajak mereka kembali ke panti. “Sus, lihatlah anak-anakmu begitu gembira,” bisikku, di tengah perjalanan pulang. Suster Lestari menoleh, melempar senyum tipisnya.

Ilustrasi
Sumber: Pixabay

 ***

Usai merampungkan tugas-tugasku di kantor, aku meluncur ke tempat Suster Lestari. Ia tengah berada di antara anak-anak yang ramai menghias ruang pertemuan. Lampion-lampion dan kertas berwarna-warni bertaburan se antero ruang.

                “Selamat sore susterku, meriahnya ulang tahun ini,” aku setengah berteriak padanya dari pintu yang terbuka lebar.

                “Mas, ambil tangga ya, bantu aku pasang lampion di langit-langit ini,” jawabnya.

                “Siap!”

                Aku balik kanan, menuju gudang di sebelah panti untuk mengambil tangga. Sejurus kemudian tangga telah kusiapkan berdiri di tengah ruangan itu.

                Aku berdiri saja sambil memegangi tangga alumunium itu. Suster Lestari tampak memelototi aku. “Ayo,naik!“ perintahnya.

“Woo, kirain suster yang mau naik,” jawabku tergelak.

                “Sompret kamu, suster kau suruh naik tangga, kau di bawah. Enak saja!”

                “Lah, suster juga boleh naik tangga kan?’

                “Naik apa saja juga boleh, pergi deh kamu ke pojok sana. Biar Ratman yang naik tangga pasang lampion. Kamu memang tak bisa diharapkan.”

                “Eit, suster juga boleh marah ya. Maksudku naik tangga, naik tingkat jadi provinsial ha ha?”

                “Nendang kamu juga boleh, brisik banget seh. Mau bantu tidak?”

                “Oke, sabar ya, ah suster makin cantik deh kalau marah,”

                “Gombal mukiyo, kamu,”

                “ha ha ha,”

                Anak-anak di sekitarku ikut tertawa. Aku naik tangga memasang lampion-lampion yang beraneka warna itu sampai selesai. Saat menjelang makan malam, Suster Lestari dan anak-anak selesai mengatur dan menghias ruangan. Esok pagi ruangan itu siap digunakan untuk perayaan Ulang Tahun panti asuhan yang ke 27. Besuk ada rombongan ibu-ibu persekutuan doa  dari Jakarta.

                Esoknya…          

Ibu- ibu dermawan itu telah tiba. Anak-anak berbaris menyalami rombongan yang semua menyunggingkan senyum cerah. Aku tidak melihat Suster Lestari.

                “Reita, dimana Suster Lestari?” aku bertanya pada anak panti yang paling besar, setelah kucari-cari tak juga menemukan pemimpin panti asuhan ini.

                “Suster di rumah sakit om,” jawab Reita. Anak itu menampakkan muka sedih saat memberitahu keberadaan Suster Lestari. Kugamit tangannya, kuajak ke luar ruangan.

                “Suster Lestari, sakit apa?” aku mulai cemas.

                “Gak apa-apa om. Tapi, Yeti om, dia pingsan semalam. Terus dibawa Suster Lestari ke rumah sakit.”

                “Ya sudah, om ke rumah sakit sekarang.Trimakasih Reita, kau jaga adik-adikmu ya!” Gadis kelas 6 itu mengangguk, kemudian memasuki ruang pertemuan.

                Kepada Ibu Surya, pemimpin rombongan, aku minta maaf karena Suster Lestari  belum bisa menemui mereka. Ibu Surya tampak mengerutkan dahi. “Mohon maaf ya ibu, suster sedang di rumah sakit, sebentar juga ke sini,” kataku pada Ibu Surya.

                Aku melesat ke rumah sakit. Kujumpai Suster Lestari menggugu di depan pintu Unit Gawat Darurat. Perlahan kurengkuh bahunya.

                “Yeni, Mas. Secepat ini Tuhan memanggilnya,” isak tangisnya makin menjadi. Aku terdiam. Kueratkan rangkulanku di pundaknya.

                Aku tahu persis siapa Yeni. Suster Lestari  sering  menceritakan anak gadis berumur lima tahun ini.  “Dia anak kesayanganku, Mas. Dalam dia, aku menemukan arti panggilan yang sesungguhnya.”

                Yeni menghuni panti sejak berusia seminggu. Persis sehari setelah Suster Lestari  menerima tugas sebagai pemimpin panti ini, di suatu malam yang berhujan lebat, seorang lelaki mengetuk pintu. Dari balik pintu, dalam temaram malam lelaki itu menyorongkan seorang bayi mungil dalam bungkus jarik lurik.”Titip bayi ini, Tuhan memberkati,” hanya itu yang diucapkan lelaki itu padanya.

                Dari hari ke hari bayi itu  tidak bertumbuh. Ia lahir  seolah hanya untuk bernapas. Sehari-hari ia tergolek di tempat tidur dengan mata berkedip-kedip. “Ia hanya mengenalku, Mas,” ujar Suster Lestari, di suatu senja, saat membawaku ke tempat tidur Yeni.

                Pagi ini, tubuh lemah Yeni telah menjadi jenazah. Bola mata gadis kecil ini tak lagi berkedip-kedip. “Pergilah dengan damai, anakku,” ucap Suster Lestari, lirih, sambil mengatupkan kedua mata anak kesayangannya. Aku tahu hatinya terpukul.

”Semangat panggilanku seperti terbawa ke haribaan-Nya, Mas,” sekali lagi kudengar ucapannya, lirih. (AS)

1 Komentar

  1. Cerpen yang menyentuh hati, terharu membacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *