New Normal Dalam Gereja Katolik?

Bukan hanya dunia bisnis saja yang terkena disruption gegara Covid-19. Rasanya sebagian besar dari kita umat Katolik tidak pernah membayangkan tidak bisa menghadiri misa secara fisik karena pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung sampai hari ini.

SUASANA MISA ONLINE DI SUATU KELUARGA
Foto : Anton S/Thetungkem.Com

Menjadi suatu hal yang baru umat Katolik mengikut misa secara online dan bisa sangat leluasa memilih mau mengikuti misa yang diadakan paroki atau keuskupan manapun yang mereka inginkan. Sebelumnya sebagian besar umat paroki cenderung ikut misa di parokinya, karena selain dekat rumah juga berharap bisa bertemu dengan kerabat yang mereka kenal dan bisa bertegur sapa dengan Romo, gembalanya.

Dengan fenomena ini, umat Katolik sekarang lebih mudah sekali “jalan-jalan” mengikuti misa di luar parokinya. Dulu mereka terhalang oleh waktu dan transportasi untuk misa di luar parokinya. Dengan misa online sekarang halangan itu sudah tidak ada lagi. Dengan misa online tidak lagi bisa bertemu dengan kerabat maupun Romo yang biasa dijumpai seusai misa di paroki sendiri. Umat bisa leluasa memilih misa dimana dengan pertimbangan tertentu, misalnya homili Romo lebih menarik, dll.

Apakah hal ini sudah menjadi permenungan hirarki Gereja Katolik untuk merespon fenomena ini? Walaupun keadaan ini mungkin hanya beberapa bulan (setelah pandemi berangsur kurang), tetapi saya kira telah terjadi “disruption” yang perlu jadi permenungan Paroki/Keuskupan. Tidak ada lagi sekat antar umat satu paroki dan keuskupan secara online. Apakah paroki menghitung dan mengevaluasi berapa jumlah yang hadir di misa-misa online yang mereka adakan dan bandingkan dengan jumlah umat yang hadir saat misa fisik, kemana mereka sisanya jika itu berkurang. Apakah paroki sudah membuat survei ke umat kemana saja mereka merayakan misa saat pandemi ini? Apakah paroki merasa perlu meningkatkan “kualitas” homili yang bisa menjadi daya tarik/pembeda mengapa umat mengikuti misa di satu tempat dan tidak di tempat lainnya.

Belum lagi disruption lainnya yang tidak bisa dikesampingkan lainnya jika ada umat Katolik yang mungkin merasa misa online (yang tidak terima komuni fisik) sama dengan mengikuti kebaktian di gereja lain yang juga tidak ada komuni. Dan, mereka mengikuti misa online gereja lain.

Semoga semua tantangan yang dihadapi Gereja Katolik karena pandemi ini membawa hikmah, adanya angin penyegaran yang baik buat perkembangan Gereja Katolik ke depan, baik bagi hirarki maupun semua umat yang digembalakan untuk terus memperbaiki diri.

Ignatius Minarto – suatu permenungan pribadi sebagai umat Katolik ~ mohon maaf jika ada pendapat dan paham pemikiran yang salah

1 Komentar

  1. Sudah benar itu, tidak ada yang salah. Yang salah adalah mengaku katolik tapi tidak pernah mengikuti ibadah online selama pandemi covid 19, dan tidak peduli dengan yang lain alias iman katolik yang mati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *