PMKRI Ditantang untuk Menjadi Nabi di Zaman Sekarang

Nabi itu utusan Tuhan. Tuhan memanggil seseorang menjadi utusan-Nya, justru pada saat terjadi krisis. Misalnya, Tuhan memanggil Musa menjadi nabi bangsa Israel, pada waktu bangsa Israel ditindas oleh bangsa Mesir. Demikian pula Tuhan memanggil Hosea menjadi utusan-Nya pada saat Tuhan merasa kecewa dengan umat-Nya.

Misa Dies Natalis ke 73 PMKRI, dengan menjalankan protokoler kesehatan. Misa dipimpin Kepala PPM DIY Romo Ferdinandus Effendi Sunur SJ, diikuti 10 aktivis PMKRI DIY
Foto: Anton Sumarjana/Gerbang Jogya.Com

Perihal panggilan seseorang menjadi utusan Tuhan ini, mengemuka dalam khotbah di Misa Dies Natalis ke 73 PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia). Presidium PMKRI Cabang DIY menyelenggarakan misa ini di Pusat Pastoral Mahasiswa (PPM) DIY di Jl Wahidin Yogyakarta, pada Senin, 25 Mei 2020. Misa dipimpin Kepala PPM Romo Ferdinandus Effendi Sunur SJ, diikuti sepuluh orang aktivis PMKRI Cabang DIY.  

            Misa Dies Natalis ke 73 (1947-2020) PMKRI ini diselenggarakan dengan tidak melanggar protokoler kesehatan, sesuai anjuran pemerintah. Semua mengenakan masker dan duduk dengan menjaga jarak. Romo Effendi yang duduk di depan, jauh dari peserta misa pun juga menggunakan masker. Ketua Presidium PMKRI Cabang DIY Astra Tandang menjelaskan, PMKRI Cabang DIY tidak pernah surut dan terus bersemangat untuk merayakan ulang tahun ini. “Ini waktu yang baik untuk kita merefleksikan diri. Kamiu tetap mengikuti protokoler kesehatan. Yang hadir tidak lebih dari sepuluh orang,” ujar Astra. 

            Dalam khotbah, lebih lanjut Romo Effendi menegaskan, PMKRI harus menyukuri dan menjaga nilai-nilai warisan para perintis. Nilai-nilai itu, menurut Romo Effendi, terbukti mampu membuat PMKRI bertahan hingga usia ke 73 tahun. “Ini pasti karya Tuhan. Jika bukan karya Tuhan, PMKRI tidak akan mampu bertahan,” tegas imam Jesuit asal Flores Timur itu.

Terkait dengan bacaan Kitab Suci yang dibacakan dalam misa Dies Natalis ke 73 PMKRI ini, Romo Effendi mengungkapkan, dalam masa pandemi Covid 19 ini kita seperti dicerai-beraikan dengan keharusan melakukan ‘social distancing’. Dalam situasi ini kita merasa sendiri. Namun Romo Effendi mengingatkan, satu hal bahwa kita percaya pada Tuhan Yesus. Kita percaya pada Bapa. “Kita akan melakukan hal yang besar,” tegasnya.

“Kita akan melakukan hal yang besar,” kata Romo Effendi mengajak para aktivis PMKRI DIY membuat perubahan dalam terang Roh Kudus dalam masa pandemi Covid 19 ini.
Foto: Anton Sumarjana/Gerbang Jogya.Com

Romo Effendi menceritakan bagaimana Allah memanggil Musa dan Hosea menjadi utusan-Nya. Nabi-nabi itu menerima panggilan dari Tuhan justru pada masa an dkrisis. Tuhan memanggil Musa pada saat bangsa Israel tertindas di Mesir. Hosea dipanggil Tuhan pada saat Tuhan merasa kecewa dengan umat-Nya. “Justru dalam masa krisis suara Tuhan terdengar lebih jelas. Roh Kudus mendorong kita untuk mencari sesuatu yang penting untuk kita lakukan bersama,” tambahnya.

Romo Effendi mengakhiri khotbahnya dengan mengajak para aktivis PMKRI ini untuk mendengarkan suara Tuhan, menjadi nabi zaman sekarang yang bisa membawa pembaharuan. “Panggilan kita menjadi pewarta. Jangan takut dan gelisah. Saya harap kalian menjadi pelaku sabda Tuhan. Covid 19 merupakan tantangan dan peluang. Jangan takut walau kita diceraiberaikan oleh korona, tapi kita tetap disatukan oleh Yesus.”

Dapur umum

Ketua Presidium PMKRI DIY dan Penanggungjawab Dies Natallis ke 73 PMKRI Astra Tandang menjelaskan program yang telah disiapkan. Mahasiswa di Sekolah Tinggi Pembangunan Desa (STMD) Yogyakarta ini menyebutkan, setidaknya ada empat kegiatan yang akan dilakukan. Yaitu dapur umum, bantuan sembako, webinar dan reuni para alumni.

Menurut Astra, Senin ini, sebagaimana tampak di Sekretariat PMKRI Cabang DIY, diselenggarakan dapur umum untuk menyiapkan makanan bagi para mahasiswa kos yang memang sangat membutuhkan bantuan. Senin, 25 Mei 2020 ini disiapkan 30 bungkus nasi beserta sayur dan lauknya. Astra menjelaskan, dapur umum yang dikoordinasikan dengan Romo Effendi selaku pimpinan PPM ini akan dibuka setiap Senin dan Jumat selama tiga bulan ke depan.

Dapur Umum PMKRI DIY dibuka setiap Senin dan Jumat di Sekretariat PPM DIY
Foto; Anton Sumarjana/Gerbang Jogya.Com

Untuk bantuan sembako, menurut Astra, seorang pemersatu PMKRI dan alumni telah menghimpun dana untuk memberi bantuan sembako kepada 30 mahasiswa kos yang diprioritaskan. PMKRI DIY telah mendata ada sekitar 500 mahasiswa kos yang butuh bantuan. “Yang 30 orang ini prioritas karena orangtua kena PHK atau

Webinar, kata Astra akan diadakan awal Juni ini. PMKRI DIY mengundang Melky Lakalena, anggota DPR dari Fraksi Golkar dan Budiantoro Staf Bapenas sebagai narasumber. Pembicara satunya lagi adalah Lukas Ispandriyo, alumni dan dosen Unika Atma Jaya Yogyakarta.

Seminar ini, menurut Astra, bertujuan melihat kembali kemandirian Indonesia di tengah pandemi Covid 19 ini. “Pandemi ini berimbas kemana-mana. Kita tidak mau pandemi ini menjadikan krisis dan kita menjadi ambruk. Kita mau tetap mandiri dan mampu melewati masa ini,” tutur Astra menjelaskan alasan diadakan webinar.

Astra Tandang menyerahkan kue ulang tahun ke 73 PMKRI kepada Romo Effendi
Foto; Anton Sumarjana/Gerbang Jogya.Com

Astra juga menjelaskan, PMKRI DIY dalam masa pandemi Covid 19 ini tetap melakukan kaderisasi dengan berdasar pada tiga semangat utama. Yaitu intelektualitas, kristianitas dan fraternitas. Dirgahayu PMKRI. Pro Eclesia et Patria.

  • Artikel ini dimuat di Bernasnews.com Selasa 26 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *